Tamita Wibisono
Tamita Wibisono Freelancer

Penulis Kumpulan Cerita Separuh Purnama, Creativepreuner, Tim Humas dan Kemitraan Cendekiawan Nusantara

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Menjaga Hati di Media Sosial Selama Sebulan, Mana Tahan?

17 Mei 2019   23:49 Diperbarui: 18 Mei 2019   12:15 55
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Menjaga Hati di Media Sosial Selama Sebulan, Mana Tahan?
dok.pri

Saya terlahir sebagai perempuan ekspresif. Ini bukan semata pengakuan saya pribadi. Melainkan menurut penilaian orang lain kebanyakan. Bahkan penilaian tersebut datang dari seorang Psikolog Surabaya yang aktif menulis di Kompasiana juga, Mbak Naftalia Kusumawardhani saat saya mengikuti acara di taman bungkul Surabaya beberapa tahun yang lalu. Sebagai orang yang terlahir ekspresif saya cukup aktif beraktualisasi diri. Bisa jadi waktu efektif saya berdiam diri hanyalah saat saya tidur. Selebihnya dunia seolah penuh warna bagi saya.

Jujur saja nih, ketika ditanya perihal menjaga hati selama satu bulan di media sosial? saya langsung teringat kata-kata Dilan, Beraaaatttt bray. Sebagai perempuan ekspresif saya nyerah alias mana tahan. Namun bersyukur, satu bulan ini saya mengikuti tantangan menulis di kompasiana yang stiap hari temanya berbeda-beda. Hal itu menjadi penyeimbang kadar hati dan fikiran saya. Media sosialpun menjadi lebih terkontrol. Dan saya pun berusaha konsisten untuk melanjutkan tantangan ini hinga titik darah penghabisan. cieee..cieee.

Zaman sekarang merupakan zaman dimana semua terhubung dengan perangkat digital yang membuka akses tanpa batas dalam bermedia sosial. . Media sosial kini bukan lagi sebagai akun pribadi tempat berbagi cerita dan foto. Fungsi ekonomi bisnis, sosial politik pun mulai mendominasi konten media sosial. Tahun politik 2019 ini misalnya.  Saya kerap mendapatkan notifikasi komnetar yang memancing emosi atas tautan berita yang saya bagi di media sosial, facebook khususnya. Berdebat, saling jawab ata komentar yang ada sepntas membuat media sosial kita begitu aktif dikunjungi banyak pihak yang terlibat pro kontra pembicaraan politik. Saya sendiri sedapat mungkin tidak kebablasan dalam menulis komentar atau kontek pengantar pemberitaan terkait politik.

Malas berdebat panjang lebar yang tidak ada manfaat secara langsung bagi saya , itu hal mendasar yang membuat saya sering tidak menanggapi komentar-komentar politik. Terlebih selama puasa. Meski seminggu lalu saya masih saja dipanggil dengan sebutan cebong. Anehnya yang kerap memancing emosi dan hati kita menjadi panas ketika bermedia sosial terkadang justru dari sesama perempuan. Tidak menanggapi bila perlu memutus koneksi media sosial dengan yang bersangkutan menjadi jurus ampuh agar kita bisa tetap menjaga hati.

Jangan sampai dalam berinteraksi di media sosial kita mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak pantas dibaca. Jika masih bersifat hal-hal yang berisi konten galau atau cerita ketidaknyamanan hidup sih, masih wajar menurut saya. Sekali lagi, media sosial sebagai sarana untuk berekspresi, meski tidak secara bebas-bebasan. Dari sekian banyak jenis media sosial yang ada, saya paling aktif di Facebook, disusul kemudian instagram, Whatsaap, Twitter dan Youtube.

Entah kenapa saya lebih merasa lebih nyaman dengan Facebook dan instagram. Selebihnya untuk Twitter dan Youtube hanya sesekali saja berbagi konten di dalamnya. Sejauh ini saya masih bisa mengendalikan diri dan belum pernah memiliki kasus hukum yang melangar undang-undang ITE. Bagi saya, keberadaan media sosial harusnya membawa dampak positif bagi kehidupan saya, bukan malah sebaliknya menjadikan kita sebagi orang yang bermasalah secara hukum. Apalagi selama bulan ramadan ini.

sumber. Jelajahdigital.com
sumber. Jelajahdigital.com
Gambaran pengguna media sosial di Indonesia memang luar biasa potensinya. Saluran-saluran digital tersebut memuat aneka konten baik itu bersifat gaya hidup, wisata kuliner dan budaya, data dan peristiwa, motivasi, hingga politik pemerintahan. Hanya dengan satu klik atau interaksi jari yang menempel di layar gawai, semua saluran media sosial menampilkan apa yang kita cari dan kita inginkan. The power of Media sosial  kian mendapat pengakuan hampir di setiap bidang kehidupan zaman sekarang. 

Sedari balita yang belum memiliki pengetahuan digital, sudah begitu terbiasa dengan youtube yang berisi konten film kartun atau lagu-lagu anak-anak. Pedagang kecil hingga pebisnis besar, tak kalah greget untuk ikut mencari tambahan pelanggan lewat media sosial. Jadi wajar jika saya pun mengikuti trend pengguna media sosial lainnya.Prinsip sederhana yang coba saya terapkan adalah, jika saya belum bisa menjaga totalitas hati dalam bermedia sosial. setidaknya momentum puasa ini saya akan coba sedikit meredam, dan membatasi hal-hal yang sifatnya kurang bermanfaat. Semoga saja berhasil. Bagaimana dengan anda?

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun