Supartono JW
Supartono JW Konsultan

Mengalirdiakunketiga05092020

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Rendah Hati dan Ikhlas, Bikin Idul Fitri 1443 Hijriah Bersama di Hardiknas ke-63

2 Mei 2022   10:30 Diperbarui: 2 Mei 2022   12:17 983
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Rendah Hati dan Ikhlas, Bikin Idul Fitri 1443 Hijriah Bersama di Hardiknas ke-63
Ilustrasi Supartono JW


Hasil belajar mudah terlupa bila tak dipelajari lagi, hasil pendidikan terpatri di sanubari-abadi, cipta manusia berkarakter-berbudi. 

(Supartono JW.02052022).

Tanggal 2 Mei 2022, adalah momentum terbesar bagi bangsa dan negara Indonesia. Sebab, bukan hanya umat Islam dapat merayakan Lebaran Idul Fitri 1443 Hijriah bersama-sama, namun 2 Mei juga merupakan Hari Pendidikan Nasional (Hardikanas). 

Yakin, Ki Hajar Dewantara, di SurgaNya tersenyum bahagia, sebab para pemimpin  negeri yang seharusnya mengayomi dan menjadi teladan bagi rakyat, ternyata dapat ikhlas dan rendah hati, sehingga umat muslim di Indonesia dapat merayakan Idul Fitri tahun 2022 bersama-sama sekaligus memperingati Hardiknas ke-63 tahun 2022.

Rendah hati dan ikhlas

Kendati umat muslim di Indonesia terbelah saat mengawali ibadah puasa, namun pada akhirnya tetap bersatu dalam merayakan Lebaran. Apa pun alasannya, mau menggunakan justifikasi atau pembenaran bagaimana pun, andai bukan karena adanya sikap rendah hati dan ikhlas, maka mustahil Lebaran akan dirayakan bersama pada 2 Mei 2022.

Sikap rendah hati dan ikhlas, juga lahir bukan seperti semudah membalik telapak tangan. Sebab, sebelum sikap rendah hati dan ikhlas muncul, berbagai pihak dan masyarakat sudah terus mengingatkan bahwa meski perbedaan itu indah, tetapi bila dapat bisa bersatu mengapa tidak?

Allah telah ciptakan manusia berbeda dalam lebih dari 15 hal, seperti termaktub dalam ayat-ayat Al-quran. Seperti perbedaan pendapat, usaha, keadaan, pekerjaan, derajat, kemampuan, jenis kelamin, suku bangsa, bahasa, warna kulit, syariat, kiblat, cara sembahyang, keimanan dan ketaqwaan, hingga rasa syukur dan lainnya.

Tapi, karena manusia dibekali dengan matahati.dan pikiran, maka dengan kecerdasan matahati dan pikiran, perbedaan itu dapat bersatu dan dipersatukan.

Sikap rendah hati dan ikhlas juga sangat identik dengan karakter Ki Hajar Dewantara. Karena sikap rendah hati dan ikhlas inilah, Ki Hajar Dewantara ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia dengan buah pemikiran dan tindakannya:

Ing Ngarso Sung Tulodho Ing Madyo Mangun Karso Tut Wuri Handayani, artinya: Di depan memberi teladan, Di tengah membangun kemauan, Di belakang memberi dorongan dan pengaruh yang baik ke arah kemandirian. Ketiga filosofi tersebut pun diterapkan dalam Gerakan Pramuka sebagai sistim among( ruh dari pendidikan kepramukaan).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun