Urip Widodo
Urip Widodo Freelancer

Berusaha menuliskan apa saja yang bermanfaat, untuk sendiri, semoga juga untuk yang lain

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Sweet Memory of Ramadan

27 April 2021   06:23 Diperbarui: 27 April 2021   12:21 2374
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sweet Memory of Ramadan
www.ariefsatiawan.com

Kalau kita buka kitab-kitab seperti Hadis Sahih Bukhari, Hadis Sahih Muslim, Riyadush Shalihin, Tanbihul Ghafilin, Bulughul Maram, dan lain-lain, maka kita akan menemukan banyak sekali amalan-amalan sunah yang bisa kita pilih untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan Ramadhan.

Berikut beberapa contoh amalan-amalan sunnah tersebut,

  • Membaca istighfar sehari 100 kali. Bisa kapan saja waktunya. Bisa sekaligus 100 kali bisa juga dibagi-bagi waktu.
  • Membaca "subhanallaahi wabi hamdihi, subhanallaahil adziim" setiap hari, sebanyak mungkin.
  • Salat duha.
  • Membaca salawat 10 kali setiap pagi.
  • Berwudlu sebelum tidur.
  • Membaca surat Al-Kahfi setiap malam atau hari jum'at
  • Tilawah (membaca) al-Quran setiap hari minimal 1 juz
  • Dan banyak lagi.

Pilihlah satu saja, mulailah dari yang sederhana, karena yang penting adalah konsisten (istiqomah). Bukankah Allah Swt lebih senang melihat hambaNya melakukan sesuatu yang sederhana tetapi dilakukan secara terus-menerus?

Rasulullah Saw bersabda,

"Amal (kebaikan) yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meskipun sedikit." (HR Muslim)

Setelah dipilih, rutinkan selama Ramadhan ini. Paksakan diri untuk melakukannya sampai menjadi habit (kebiasaan). Dan terus amalkan sampai bertemu Ramadhan lagi. Tentu dalam pelaksanaannya ada bolongnya, artinya ada saat tidak bisa melakukan amalan-amalan tersebut. Baik karena sibuk, kecapaian, atau lupa. Tidak mengapa, karena itu adalah amalan sunah.

Namun ada yang istimewa, amal saleh yang dilakukan secara istiqomah (rutin) itu pahalanya akan terus mengalir, terus akan Allah berikan, walaupun suatu saat kita tidak melakukannya karena alasan tertentu. Misalnya karena sakit.

Rasulullah Saw bersabda,

"Jika seseorang sakit atau melakukan safar (bepergian), maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika mukim (atau tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat." (HR.Bukhari)

Tulisan ini lebih baiknya ditulis di awal Ramadhan, supaya kita bisa memulai amalan yang kita pilih sejak hari pertama Ramadhan. Sekarang sudah pertengahan. Namun, bukan sesuatu yang jelek kalau kita memulai sekarang juga. Insya Allah, selama kita ber-azam, bertekad untuk istiqomah, maka kita pun akan sanggup melakukannya.

Semoga bermanfaat.

TSM, 27/04/21

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun