Berbuka dengan yang Manis Memang Sunah, tapi Kalah oleh yang Wajib
Tentu saja Rasulullah Saw tidak semata-mata menganjurkan kepada umatnyta untuk mengkonsumsi buah kurma saat berbuka.
Lalu bagaimana dengan mispersepsi yang terjadi sekarang ini, bahwa berbuka dengan yang manis?
Sebenarnya tidak terlalu bermasalah juga selama yang manis-manis itu berasal dari yang alami, seperti dari buah-buahan. Bukan yang manis-manis minuman softdrink atau makanan manis yang menggunakan gula sebagai pemanisnya.
Karena berbuka dengan yang manis pun -- walaupun bukan dengan kurma -- ada efek positifnya. Beberapa efek positif tersebut adalah sebagai berikut:
- Menambah Energi Tubuh. Makanan yang manis mengandung gula sederhana yang dapat segera memberikan energi cepat bagi tubuh. Setelah seharian berpuasa, tubuh membutuhkan asupan energi yang cukup untuk memulihkan tenaga.
- Mengembalikan Kadar Gula Darah. Saat berpuasa, kadar gula darah seseorang dapat turun drastis, dan ini dapat menyebabkan rasa lelah, pusing, dan sulit berkonsentrasi. Makanan manis dapat membantu meningkatkan kadar gula darah secara cepat, sehingga memperbaiki keseimbangan gula darah dalam tubuh.
- Memperbaiki Mood. Makanan manis diketahui dapat meningkatkan mood dan membuat seseorang merasa lebih baik secara emosional. Hal ini dapat membantu seseorang merasa lebih bahagia dan senang saat berbuka puasa, dan mengurangi rasa lelah dan stres akibat puasa seharian.
Namun tentu saja saran 'Jangan berlebihan' sangat berlaku untuk ini (mengkonsumsi yang manis). Rasulullah Saw saja saat menganjurkan berbuka dengan kurma menyatakan cukup tiga butir saja.
Lalu, kalau berbuka dengan yang manis ini (dianggap) sunah, apa yang wajibnya?
Hehe .... Ini sebenarnya celetukkan teman saya, di suau sore, saat mempersiapkan tajil di masjid perumahan. "Berbuka itu sunahnya dengan kurma, dan wajibnya dengan ini." Dia berkata serasa menyodorkan sepiring gorengan yang terdiri dari Gehu (tauGE taHU) dan Balabala (bakwan).
Itu memang cuma celetukkan, tapi realitanya memang begitu. Bagi kita (orang Sunda terutama), tidak lengkap rasanya kalau berbuka tidak ada yang asin-asin (gorengan). Dan pengalaman penulis berbuka puasa di mana pun. Makanan yang 'diserbu' saat berbuka adalah gorengan. Sementara kurma hanya dianggap untuk menggugurkan sunah saja. Hanya 1-3 butir.
Sudah dipastikan, sepiring kurma akan awet (tidak habis) saat bukber (buka puasa bareng). Berbeda dengan gorengan, tiga piring pun pasti tandas.
Banyak alasan mengapa orang kita senang berbuka dengan gorengan. Dua diantaranya karena cukup mengenyangkan. Terlebih jika setelah menyantap takjil tidak sempat makan-makanan berat. Alasan lain mudah didapat dan harganya sangat terjangkau.
Namun, lagi-lagi saran 'Jangan berlebihan' harus diperhatikan, karena gorengan mengandung lemak yang cukup tinggi, memicu kolesterol tinggi, serta bisa menyebabkan obesitas.