Widi Kurniawan
Widi Kurniawan Human Resources

Pengguna angkutan umum yang baik dan benar | Best in Citizen Journalism Kompasiana Award 2022

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Artikel Utama

Tradisi Sungkem dan Kelegaan Setelah Saling Memaafkan

1 April 2025   08:06 Diperbarui: 1 April 2025   08:26 503
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tradisi Sungkem dan Kelegaan Setelah Saling Memaafkan
Tradisi sungkem (foto: widikurniawan) 

Pagi hari saat Idul Fitri selalu menjadi pagi yang menyenangkan. Entah mengapa, atmosfer pagi saat lebaran terasa menyegarkan dan melegakan. 

Ketika kaki melangkah ke masjid, ada perasaan tenang dan ringan, seolah dosa-dosa yang menempel tengah berjatuhan. 

Usai shalat Ied, sungkem menjadi tradisi di keluarga kami yang wajib dilakukan. Bersimpuh di hadapan orang tua, mencium tangan sembari memohon maaf atas segala kesalahan yang dilakukan. 

Sungkem juga bisa dianggap sebagai penghormatan sekaligus wujud ucapan rasa terima kasih. Bagaimanapun, seorang anak tak akan sanggup membalas jasa besar orang tua, terutama ibu, yang telah membesarkan dan mendidik anaknya hingga dewasa. 

Maka, melalui sungkem di pagi hari saat Idul Fitri menjadi momen terbaik untuk merendah, membumi, dan menyadari kembali soal hakikat sebagai manusia. 

Tak ada lagi hati yang mengganjal, tak ada pula kekesalan yang terpendam. Bukan menjadi hal yang tabu pula ketika seorang anak atau orang tua menitikkan air mata tanda keharuan ketika sungkem.

Sebagai anak, saya merasa wajib sungkem kepada orang tua saya. Demikian pula kini ketika saya sudah menjadi orang tua, saya pun mengajarkan anak-anak saya untuk sungkem pada orang tuanya. 

Ada makna sungkem bagi mereka yang masih muda ataupun anak-anak, yaitu sebagai sarana melatih kerendahan hati, mengajarkan sopan santun, etika serta menghilangkan sifat egois. 

Barangkali bagi yang belum paham dan apatis, menganggap tradisi sungkem terlihat mengada-ada, bahkan ada yang menyebutnya feodal. Tak jarang pula yang mengolok-olok tradisi ini melalui media sosial, dengan mengatakan jika sungkem wajib menggunakan bahasa Jawa halus yang susah dihafal dan diucapkan oleh anak-anak muda sekarang. 

Padahal, ucapan singkat seperti "mohon maaf lahir batin" sudah cukup dipahami oleh orang tua kita. Tak perlu juga melafalkan kata-kata yang tak dimengerti. 

Bahkan anak lelaki saya yang notabene masih kesulitan berbahasa Jawa, justru sangat lancar mengungkapkan isi hatinya dengan Bahasa Indonesia ketika sungkem dengan Bundanya. 

"Bunda, maafin aku ya Bun. Selama ini banyak salah. Aku nggak mau lagi ulangi kesalahan aku, sering malas belajar, dan bikin Bunda marah... Maafin aku ya Bun..." ucapnya sambil kemudian memeluk Bundanya dengan erat. 

Saat sungkem atau melihat orang lain sungkem, ada rasa haru yang menyeruak, ada pula kelegaan karena setiap orang bisa jujur mengungkapkan isi hatinya. Seolah terlebur sudah kesalahan yang pernah dilakukan. 

Inilah nilai positif dari tradisi yang tiap tahun kami lakukan. Sebagai wujud penyesalan dan permintaan maaf terhadap segala kesalahan dan perbuatan buruk yang pernah dilakukan.

Tak hanya di keluarga kami saja, tradisi sungkem pun biasa dilakukan oleh masyarakat di lingkungan orang tua saya tinggal. 

Usai shalat Ied, biasanya mereka yang muda-muda, baik yang belum menikah maupun sudah berkeluarga, akan berkeliling ke rumah-rumah tetangga yang dituakan. 

Bapak dan Emak saya termasuk warga paling senior di kampungnya, kerap pula didatangi mereka yang masih muda dan kemudian melakukan sungkem layaknya kepada orang tua sendiri. 

Hari lebaran tahun ini, Saya pun merasa mendapatkan banyak pelajaran hidup penting tentang silaturahmi hingga penghormatan kepada para orang tua. 

Ketika datang dari rumah ke rumah kerabat dan tetangga, sungguh kehadiran untuk bersalaman dan sungkem sangat berarti bagi orang-orang tua yang mungkin sudah sakit-sakitan, pikun, susah berjalan, penglihatan kurang dan lain sebagainya. 

Tak hanya kelegaan hati karena sudah saling memaafkan walau jarang bertemu, tetapi momen seperti ini adalah momen saat Saya menyadari masih menjadi manusia dan harus berlaku manusiawi terhadap sesama. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun