Pramudya Arie
Pramudya Arie Penulis

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. (Pramoedya Ananta Toer)

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN

Elegansi Spiritual: Mendalami Dalil Pemakaian Baju Baru pada Hari Raya

4 April 2024   09:33 Diperbarui: 4 April 2024   10:03 144
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Elegansi Spiritual: Mendalami Dalil Pemakaian Baju Baru pada Hari Raya
Bincang Syariah

Tradisi memakai busana yang istimewa pada Hari Raya Idul Fitri telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan keagamaan umat Muslim di seluruh dunia. Di balik praktik ini, terdapat dalil yang menggarisbawahi pentingnya pemakaian busana yang terbaik saat merayakan momen penting ini. Salah satu hadis yang menjadi rujukan dalam konteks ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhuma, yang menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyarankan umatnya untuk memakai pakaian terbaik dan wewangian terbaik yang dimiliki pada dua hari raya.

Dalil ini menjadi pijakan spiritual yang mengundang refleksi mendalam tentang makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam pemakaian busana saat Lebaran. Dalam tulisan ini, kita akan membahas secara mendalam makna spiritual, aspek budaya, dan pesan sosial yang terkandung dalam praktik ini, serta relevansinya dalam konteks kehidupan modern.

1. Dimensi Spiritual dalam Pemakaian Baju Baru pada Hari Raya

Pemakaian busana terbaik pada Hari Raya Idul Fitri mencerminkan kedalaman spiritual dalam ajaran Islam. Sebagai agama yang mengedepankan kebersihan, kerapihan, dan kesopanan, Islam mendorong umatnya untuk memperhatikan penampilan mereka secara keseluruhan. Dalam konteks pemakaian busana pada Hari Raya, pemilihan pakaian terbaik bukanlah sekadar tindakan kosmetik, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan terhadap momen yang sakral dalam kehidupan seorang Muslim.

Pemakaian busana terbaik juga menjadi ekspresi dari rasa syukur dan kebahagiaan atas nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada umatnya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada umatnya untuk merayakan momen kebahagiaan dengan penuh kegembiraan, dan salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan memperindah diri melalui pemakaian busana yang istimewa. Dengan demikian, pemakaian busana pada Hari Raya menjadi lebih dari sekadar tindakan fisik, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkokoh ikatan spiritual dengan Allah SWT.

2. Warisan Budaya dan Identitas dalam Pemakaian Busana Lebaran

Tradisi pemakaian busana terbaik pada Hari Raya juga mencerminkan warisan budaya dan identitas yang kuat dalam masyarakat Muslim. Di berbagai belahan dunia, umat Muslim memiliki busana tradisional yang khas dan memperkaya khazanah budaya bangsa masing-masing. Pemakaian busana tradisional ini bukan hanya sekadar tindakan kosmetik, melainkan juga merupakan bentuk penghormatan terhadap leluhur dan tradisi yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.

Pada saat Lebaran, pemakaian busana tradisional tidak hanya menjadi ekspresi dari identitas budaya, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan kebersamaan dalam komunitas. Melalui pemakaian busana yang seragam, umat Muslim merasa bahwa mereka adalah bagian dari satu kesatuan yang lebih besar, yakni komunitas yang merayakan kemenangan spiritual setelah menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh.

3. Pesan Kesederhanaan dan Kepedulian Sosial

Di tengah kemewahan dan konsumerisme yang sering menyertai perayaan Hari Raya Idul Fitri, pemakaian busana terbaik pada dua hari raya juga menjadi peluang untuk mengingatkan umat Muslim akan nilai-nilai kesederhanaan dan kepedulian sosial yang diajarkan oleh agama Islam. Islam mengajarkan pentingnya untuk tidak berlebihan dalam hal berpakaian dan menggunakan harta, serta untuk selalu peduli terhadap mereka yang kurang beruntung.

Oleh karena itu, pemakaian busana terbaik pada Hari Raya seharusnya bukanlah ajang untuk pamer kemewahan atau status sosial, melainkan untuk menunjukkan kesederhanaan, kerendahan hati, dan rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Dengan memilih busana yang terbaik, umat Muslim seharusnya juga mengingat untuk selalu berbagi kepada sesama yang membutuhkan, sehingga momen kebahagiaan dapat dirasakan oleh semua orang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun