Part of #Commate'22- Now - KCI | Kompasianer of The Year 2019 | Fruitaholic oTY'18 | Wings Journalys Award' 16 | agungatv@gmail.com
Memaknai Mudik a la Perantau Lawas
Pernah suatu waktu, rejeki sedang lebih. Saya ajak anak istri, pulang kampung dengan naik pesawat. Jelas binar bahagia di wajah mereka, anak-anak sangat antusias. Pengalaman baru, semoga menjadi moment tak terlupa. Cukuplah suka cita itu, membungahkan hati si ayah.
Dari sekian banyak pulang kampung, saya merenungi jalan kehidupan ditempuh. Sebegitu jauh langkah mengayuh, menemui dan melewati banyak peristiwa kehidupan. Betapa budaya mudik, telah mempengaruhi semua aspek kehidupan. Harga tiket transportasi melonjak, orang memburu pakaian baru, belanja makanan minuman lebih dari biasanya.
Ego manusia dipompa habis-habisan, pengin barang elektronik dan gadget baru. Posting foto dan video, bersama keluarga berbondong ke lokasi wisata. Dan lain sebagainya.
Memaknai Mudik a la Perantau Lawas
Mudik bagi saya, adalah wujud bakti pada orangtua. Kedatangan kami yang ditunggu-tunggu, cukuplah menjadi obat kangen ayah dan ibu. Dan setelah ayanda berpulang, ibu menjadi matahari bagi kami anak anaknya. Setelah sekian banyak mudik, satu hal tidak pernah berubah. Adalah senyum tulus dan bahagia.
Buah tangan sekedarnya, sebagai pelengkap kedatangan dan kebahagiaan. Meski saya sepenuhnya sadar, apapun yang persembahan tak bisa membalas utang kasih sayang. "Kamu bisa pulang saja, ibu wis seneng banget".
Makna mudik bagi saya, lebih dari sekedar pulang dan bersua orangtua dan handai taulan. Mudik tak ubahnya perjalanan kehidupan, bahwa sejauh kaki melangkah kan kembali ke muasal. Kampung halaman adalah tanah tumpah darah, selalu menyimpan dan menghadirkan kekangenan.
Mudik bisa diumpamakan latihan, mudik dalam arti yang sebenarnya. Kita di dunia adalah perantau, dan kampung akhirat adalah tempat muasal. Sudah seyogyanya, mudik menumbuhkan makna dan kesadaran. Bahwa setiap kita, akan tiba saat mudik yang sesungguhnya. Semoga bermanfaat.