20 y.o | mahasiswa s1 sistem informasi ( semester 6 ) di STIKOM Yos Sudarso Purwokerto | gen z yang menulis | awalnya karena coba-coba lalu jadi hobby | lewat tulisan, saya ingin berbagi | lewat tulisan, saya ingin tumbuh
Minta Maaf di Era Digital: Apakah Emoji dan Chat Bisa Menggantikan Tatap Muka?
Dalam dunia yang serba cepat ini, maaf tak lagi hanya terucap lewat kata, tapi juga bisa terkirim dalam bentuk emoji atau chat. Namun, apakah itu cukup untuk menyentuh hati?
Lebaran selalu identik dengan momen saling memaafkan. Setelah satu tahun penuh berinteraksi, tentu ada kesalahan yang mungkin sengaja atau tidak sengaja dilakukan.
Maka, datanglah hari yang penuh makna ini—di mana kita semua mencoba untuk membersihkan hati dan memulai kembali dengan lembaran yang lebih baik.
Dulu, maaf-maafan dilakukan secara langsung. Ada yang datang ke rumah saudara, ada yang mencium tangan orang tua dalam sungkeman, ada yang berpelukan dengan sahabat dan tetangga.
Namun, zaman sudah berubah. Kini, satu pesan singkat berisi "Mohon maaf lahir dan batin" yang dikirim ke seluruh kontak dalam hitungan detik bisa dianggap cukup.
Bahkan, ada yang hanya mengunggah status di media sosial tanpa menyebut satu nama pun. Pertanyaannya, apakah permintaan maaf seperti ini masih memiliki makna yang sama?
Tradisi Maaf-maafan di Hari Raya
Sejak dulu, maaf-maafan saat Lebaran bukan sekadar kebiasaan, tapi sudah menjadi tradisi yang mengakar di masyarakat.
Sungkeman dalam budaya Jawa misalnya, adalah momen sakral di mana seseorang meminta maaf kepada orang tua dengan penuh penghormatan.
Di berbagai daerah lain, momen Lebaran dijadikan ajang untuk mengunjungi sanak saudara, berbicara dari hati ke hati, dan benar-benar menunjukkan ketulusan dalam meminta maaf.
Namun, teknologi mengubah cara kita berinteraksi. Kini, orang-orang tak lagi merasa perlu bersusah payah mengunjungi keluarga besar satu per satu.
Cukup dengan satu ketikan di WhatsApp, semua selesai. Bahkan, beberapa orang hanya menggunakan stiker atau emoji tangan menyatu 🙏 sebagai tanda permintaan maaf.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025