Minta Ma'af dan Mema'afkan : Membongkar Kesalahan Membuahkan Ketenangan, Halal Bihalal Pemungkasnya !
Minta Ma'af dan Mema'afkan : Membongkar Kesalahan Membuahkan Ketenangan, Halal Bilhalal Pemungkasnya !
Bismillah,
Khilaf, salah dan dosa merupakan sifat yang melekat pada diri setiap insan. Tidak ada individu yang dapat lepas dan terlepas dari sifat tersebut dalam kehidupan berinteraksi dengan sesama.
Untuk menormalisasi hubungan baik diantara sesama dalam pergaulan sehari-hari, agama terutama islam membuka pintu dan ruang minta maaf dan memaafkan.
Seseorang yang secara sadar mengakui kesalahannya terhadap orang lain, lalu minta maaf merupakan ksatria. Sedangkan orang yang secara tulus ikhlas memberi maaf atau memaafkan adalah manusia terpuji.
Betapa indahnya hidup dan kehidupan ini, bila yang salah mengakui kesalahannya, lalu minta maaf dan yang merasa dizalimi dengan hati yang tulus memberi maaf atau memaafkan.
Kemudian pertanyaannya, kapan dan dimana permintaan maaf itu musti dilakukan, agar posisinya menjadi kosong-kosong ?
Pada persoalan ini, agama khususnya islam memberi petunjuk bahwa dosa dan kesalahan lebih utama dimintakan maaf dan keridhaan dari seseorang yang merasa terzalimi tatkala perbuatan itu baru saja usai dilakukan.
Namun demikian, karena suasananya belum kondusif dan adanya faktor-faktor yang musti dipertimbangkan, maka ditangguhkan dan menunggu momen yang tepat.
Umumnya, momentum yang dianggap paling tepat untuk minta maaf yaitu pada saat hari raya atau lebaran fitri. Keputusan ini tentu cukup bijak dan logis, karena suasana kebatinan seseorang seseorang relatif stabil setelah menjalani ritual puasa ramadan selama sebulan.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025