Memahami Tiga Dimensi Fitrah Orang Beriman Memaknai Hari Idul Fitri

Tiga Dimensi Fitrah Orang Beriman Memaknai Hari Idul Fitri
Ketika orang beriman lulus dalam pelatihan yang dilakukan selama bulan ramadan, maka orang beriman akan mempunyai modal besar dalam menapaki perjalanan fitrahnya pada ramadan berikutnya. Sehingga orang beriman, akan lebih tepat sasaran dalam memaknai hari Idul Fitri.
Ya, idul fitri tidak lagi dimaknai sebagai hari kemenangan, namun sudah pada etape tingkat lanjut yaitu menjadikan idul fitri sebagai momen untuk menyiapkan diri mengasah tiga dimensi fitrahnya menuju ramadan berikutnya.
Maka, bagi orang beriman yang sudah lulus pelatihan di bulan ramadan, ia sudah mempunyai modal yang memadai dalam menghadapi perjalanan hidup dengan segenap ujian dan tantangan pada sebelas bulan berikutnya. Sehingga, makin banyak ramadan yang dijalani; makin seimbang dimensi individual, sosial dan spiritualnya. Pada akhirnya resonansi ketakwaannya makin nampak baik pada dimensi indivudualnya, sosialnya maupun spiritualnya.
Lalu, apa tandanya orang beriman itu lulus dari pelatihan bulan ramadan? Ia mulai merasakan dirinya bisa rendah hati, sudah mulai mau menghargai orang lain, kadar sombongnya sudah mulai berkurang, sudah mulai berhasil mengendalikan amarah. Pendek kata, pada dimensi individualnya seseorang merasakan ada perubahan menuju kea rah yang lebih baik.
Selanjutnya dimensi sosial juga sudah mulai terbenahi. Ia sudah mulai senang membantu orang lain tanpa pamrih, senang berempati pada orang lain yang ada masalah, sudah mulai sadar untuk mengeluarkan zakat, infaq, dan sedekah (karena ia mampu), dll. Jiwa peduli terhadap sesama, sudah mulai dirasakan.
Demikian juga pada dimensi spiritualnya juga sudah mulai merasakan pentingnya ibadah-ibadah sunah dalam memperkuat ibadah yang bersifat wajib. Salat sunah sudah menjadi kebutuhan, puasa sunah sudah mulai dijalani, semangat belajar al qur'an makin meningkat. Kajian sat uke kajian lain sudah mulai dilakukan.
Ilustrasi orang yang demikian adalah orang beriman yang sudah mempunyai modal besar dalam menapaki kehidupan sebelas bulan berikutnya. Lalu, siapa yang bisa merasakan suasana peningkatan tersebut? Jawabnya adalah Gusti Alloh dan dirinya sendiri.
Sayangnya, tidak semua kita bisa lulus dalam pelatihan bulan ramadan. Bagi kita yang tidak lulus, akan mengulang lagi pelatihannya. Kita harus mengikuti "remedial training" pada bulan ramadan berikutnya. Namun, apabila kita menyadari arti pentingnya bulan ramadan dalam memperbaiki fitrah kita, walaupun harus mengulang; kita tidak boleh berputus asa.
Pintu kemenangan masih terbuka. Tangga menuju takwa masih terbuka lebar. Hanya diperlukan kesadaran dan kemauan kuat agar dapat lulus dalam pelatihan bulan ramadan.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025