Memahami Tiga Dimensi Fitrah Orang Beriman Memaknai Hari Idul Fitri

Lalu, bagaimana terhadap orang beriman yang terus gagal mengikuti pelatihan? Yang pasti mereka hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Pendek kata, mereka hanya memperoleh keuntungan dalam menyehatkan fisiknya. Namun, hati dan jiwanya masih belum ada perubahan.
Kondisi demikian dapat kita lihat pada sikap individunya masih egois, ingin menang sendiri, takabur masih tumbuh subur dalam sikapnya. Pada aspek sosialnya juga masih belum ada perubahan. Sikap peduli masih jauh dari harapan, zakat, infaq, sedekah masih dirasakan berat, dll.
Sikap spiritualnya juga demikian. Ibadah masih malas-malasan. Jangankan ibadah sunah, yang wajib saja masih menunda-nunda dalam menjalankan. Ibadah yang dijalankan biasanya masih terjebak pada pelaksanaan ritual semata. Itupun tidak dijalankan dengan kesungguhan yang maksimal.
Berdasar paparan di atas, di hari yang fitri ini, mari kita renungkan ulang perjalanan kita tiga puluh mengikuti pelatihan tiga dimensi fitrah kita. Lulus dan belum lulus, hanya kita yang bisa merasakan. Yang pasti, mari kita berjuang sekuat tenaga dan jiwa kita agar bisa lulus dari pelatihan bulan ramadan. Sebab bulan itu "banyak bonusnya". Maha benar Allah SWT dengan segala firman-Nya.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025