cipto lelono
cipto lelono Guru

Menulis sebaiknya menjadi hobi

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Artikel Utama

Memahami Tiga Dimensi Fitrah Orang Beriman Memaknai Hari Idul Fitri

31 Maret 2025   11:55 Diperbarui: 31 Maret 2025   15:03 435
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Memahami Tiga Dimensi Fitrah Orang Beriman Memaknai Hari Idul Fitri
Suasana shalat Idul Fitri di Masjid Nurul Iman, Kuang Jukut, Desa Pringgarata, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Rabu (10/4/2024). (KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA)

Ramadan adalah bulan pelatihan. Ramadan merupakan bulan perbaikan diri. Orang beriman diberikan kesempatan untuk meningkatkan derajatnya menjadi orang bertakwa. Orang beriman yang lolos atau lulus akan menemukan fitrahnya lagi.

Jadi, proses pelatihan di bulan ramadan dapat mengantarkan orang beriman yang lulus, akan menemukan fitrahnya. Lalu, apa fitrahnya yang berhasil diraihnya? 

Fitrah tersebut hakikinya adalah status orang beriman sebagai makhluk yang diberikan akal dengan tiga dimensi kehidupan yang menyatu, yaitu dimensi individual, sosial, dan spiritual.

Ketiga dimensi tersebut selama ramadan, ditempa, diasah, digembleng. Melalui lapar dan dahaga serta larangan lainnya. Dimensi individualnya di asah agar menjadi pribadi yang tidak individualis atau egosentris. Sebab, sifat-sifat demikian akan memunculkan sifat-sifat buruk lainnya seperti iri, dengki, takabur, riyak, dll.

Dimensi sosialnya juga ditempa selama ramadan agar menjadi makhluk sosial yang mempunyai kepedulian, kepekaan, dan tanggap terhadap kondisi orang lain yang membutuhkan bantuan. Apakah bantuan saran, nasihat, sampai pada sikap peduli untuk berbagi kepada anak yatim maupun fakir miskin. 

Zakat, infaq, sedekah juga diasah sebagai upaya melatih jiwa orang beriman mempunyai kesadaran, bahwa ada orang lain yang juga berhak atas hartanya. Sikap sosial demikian diasah, ditempa, dan digembleng selama bulan ramadan agar orang beriman terjauh dari sikap anti sosial.

Demikian juga pada dimensi spiritualnya. Spritual orang beriman selama ramadan juga ditempa agar menjadikan hati dan jiwa orang beriman makin dekat sang Khaliq. Ibadah yang wajib dan sunnah juga diasah, sehingga orang beriman diarahkan agar makin dekat dengan sang Khaliq. Pasca ramadan, orang beriman diharapkan meningkat kuantitas dan kualitas ibadahnya.

Meningkatnya kuantitas ibadah ditandai makin banyaknya aktivitas ibadah sunnah yang ditunaikan. Salat sunnah, puasa sunnah, tadarus al qur'an, makin menambah koleksi aktivitas ibadah yang dilakukan. 

Sedangkah meningkatnya kualitas ibadah ditandai dengan kemampuan orang beriman "menggali makna" ibadah yang dijalankan. Sehingga pasca ramadan, citra keimanannya makin "menyala", tidak hanya menyinari ucapan, perilaku dan tindakannya, namun juga mampu menyinari lingkungannya baik yang dekat maupun yang jauh. 

Pendek kata, pasca ramadan ibadahnya makin dirasakan makna, fungsi dan manfaatnya. Jadi, bukan semata-mata ritual.

Ilustrasi orang beriman memaknai hari idul fitri. Sumber: https://www.detik.com
Ilustrasi orang beriman memaknai hari idul fitri. Sumber: https://www.detik.com

Tiga Dimensi Fitrah Orang Beriman Memaknai Hari Idul Fitri

Ketika orang beriman lulus dalam pelatihan yang dilakukan selama bulan ramadan, maka orang beriman akan mempunyai modal besar dalam menapaki perjalanan fitrahnya pada ramadan berikutnya. Sehingga orang beriman, akan lebih tepat sasaran dalam memaknai hari Idul Fitri. 

Ya, idul fitri tidak lagi dimaknai sebagai hari kemenangan, namun sudah pada etape tingkat lanjut yaitu menjadikan idul fitri sebagai momen untuk menyiapkan diri mengasah tiga dimensi fitrahnya menuju ramadan berikutnya.

Maka, bagi orang beriman yang sudah lulus pelatihan di bulan ramadan, ia sudah mempunyai modal yang memadai dalam menghadapi perjalanan hidup dengan segenap ujian dan tantangan pada sebelas bulan berikutnya. Sehingga, makin banyak ramadan yang dijalani; makin seimbang dimensi individual, sosial dan spiritualnya. Pada akhirnya resonansi ketakwaannya makin nampak baik pada dimensi indivudualnya, sosialnya maupun spiritualnya.

Lalu, apa tandanya orang beriman itu lulus dari pelatihan bulan ramadan? Ia mulai merasakan dirinya bisa rendah hati, sudah mulai mau menghargai orang lain, kadar sombongnya sudah mulai berkurang, sudah mulai berhasil mengendalikan amarah. Pendek kata, pada dimensi individualnya seseorang merasakan ada perubahan menuju kea rah yang lebih baik.

Selanjutnya dimensi sosial juga sudah mulai terbenahi. Ia sudah mulai senang membantu orang lain tanpa pamrih, senang berempati pada orang lain yang ada masalah, sudah mulai sadar untuk mengeluarkan zakat, infaq, dan sedekah (karena ia mampu), dll. Jiwa peduli terhadap sesama, sudah mulai dirasakan.

Demikian juga pada dimensi spiritualnya juga sudah mulai merasakan pentingnya ibadah-ibadah sunah dalam memperkuat ibadah yang bersifat wajib. Salat sunah sudah menjadi kebutuhan, puasa sunah sudah mulai dijalani, semangat belajar al qur'an makin meningkat. Kajian sat uke kajian lain sudah mulai dilakukan.

Ilustrasi orang yang demikian adalah orang beriman yang sudah mempunyai modal besar dalam menapaki kehidupan sebelas bulan berikutnya. Lalu, siapa yang bisa merasakan suasana peningkatan tersebut? Jawabnya adalah Gusti Alloh dan dirinya sendiri.

Sayangnya, tidak semua kita bisa lulus dalam pelatihan bulan ramadan. Bagi kita yang tidak lulus, akan mengulang lagi pelatihannya. Kita harus mengikuti "remedial training" pada bulan ramadan berikutnya. Namun, apabila kita menyadari arti pentingnya bulan ramadan dalam memperbaiki fitrah kita, walaupun harus mengulang; kita tidak boleh berputus asa. 

Pintu kemenangan masih terbuka. Tangga menuju takwa masih terbuka lebar. Hanya diperlukan kesadaran dan kemauan kuat agar dapat lulus dalam pelatihan bulan ramadan.

Lalu, bagaimana terhadap orang beriman yang terus gagal mengikuti pelatihan? Yang pasti mereka hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Pendek kata, mereka hanya memperoleh keuntungan dalam menyehatkan fisiknya. Namun, hati dan jiwanya masih belum ada perubahan. 

Kondisi demikian dapat kita lihat pada sikap individunya masih egois, ingin menang sendiri, takabur masih tumbuh subur dalam sikapnya. Pada aspek sosialnya juga masih belum ada perubahan. Sikap peduli masih jauh dari harapan, zakat, infaq, sedekah masih dirasakan berat, dll.

Sikap spiritualnya juga demikian. Ibadah masih malas-malasan. Jangankan ibadah sunah, yang wajib saja masih menunda-nunda dalam menjalankan. Ibadah yang dijalankan biasanya masih terjebak pada pelaksanaan ritual semata. Itupun tidak dijalankan dengan kesungguhan yang maksimal.

Berdasar paparan di atas, di hari yang fitri ini, mari kita renungkan ulang perjalanan kita tiga puluh mengikuti pelatihan tiga dimensi fitrah kita. Lulus dan belum lulus, hanya kita yang bisa merasakan. Yang pasti, mari kita berjuang sekuat tenaga dan jiwa kita agar bisa lulus dari pelatihan bulan ramadan. Sebab bulan itu "banyak bonusnya". Maha benar Allah SWT dengan segala firman-Nya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun