Frans Leonardi
Frans Leonardi Akuntan

Sebagai seorang introvert, Saya menemukan kekuatan dan kreativitas dalam ketenangan. Menyukai waktu sendirian untuk merenung dan mengeksplorasi ide-ide baru, ia merasa nyaman di balik layar ketimbang di sorotan publik. seorang amatir penulis yang mau menyampaikan pesannya dengan cara yang tenang namun , menjembatani jarak antara pikiran dan perasaan. Salam dari saya Frans Leonardi

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Mengapa Anak Harus Diajari Mengungkapkan Isi Pikiran Sejak Dini?

2 April 2025   08:15 Diperbarui: 1 April 2025   21:09 163
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mengapa Anak Harus Diajari Mengungkapkan Isi Pikiran Sejak Dini?
Ilustrasi Mengungkapkan Fikiran.Pixabay.com/m_duy 

Di sisi lain, anak yang kurang memiliki kemampuan komunikasi juga bisa mengalami kesulitan dalam dunia akademik dan profesional. Banyak bidang pekerjaan yang membutuhkan keterampilan berbicara yang baik, terutama dalam berinteraksi dengan rekan kerja, klien, atau saat harus mempresentasikan ide. Jika sejak kecil mereka tidak terbiasa berbicara, maka mereka akan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam dunia kerja nantinya.

Bagaimana Cara Efektif Mengajari Anak Mengungkapkan Pikiran?

Mengajari anak berbicara bukan sekadar mengajarkan mereka kata-kata atau kalimat, tetapi juga membantu mereka memahami bagaimana mengekspresikan ide, perasaan, dan pendapat dengan cara yang tepat. Proses ini membutuhkan kesabaran dan konsistensi, serta lingkungan yang mendukung agar anak merasa nyaman berbicara.

Pertama, sebagai orang tua atau pendidik, kamu perlu memberikan ruang bagi anak untuk berbicara. Hindari kebiasaan langsung menyela atau mengoreksi anak saat ia sedang mencoba mengungkapkan sesuatu. Biarkan mereka menyelesaikan kalimatnya, meskipun mungkin apa yang mereka katakan belum sepenuhnya jelas atau terstruktur dengan baik.

Selain itu, sering-seringlah mengajak anak berdiskusi tentang berbagai hal, baik itu tentang kejadian sehari-hari, perasaan mereka, atau hal-hal yang menarik perhatian mereka. Misalnya, setelah menonton film bersama, kamu bisa bertanya, "Menurut kamu, apa yang terjadi di akhir cerita?" atau "Bagaimana perasaan tokoh utama dalam film itu?" Dengan cara ini, anak akan terbiasa menganalisis dan mengekspresikan pikirannya secara lebih terstruktur.

Tidak kalah penting, beri contoh yang baik dalam berkomunikasi. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar. Jika orang tua terbiasa berbicara dengan jelas, mendengarkan dengan baik, dan menyampaikan pendapat dengan sopan, maka anak akan meniru kebiasaan tersebut.

Tantangan dalam Mengajari Anak Berkomunikasi dan Cara Mengatasinya

Tidak semua anak memiliki kemauan yang sama dalam berbicara. Beberapa anak mungkin pemalu atau cenderung lebih nyaman menyimpan pikirannya sendiri. Dalam menghadapi situasi seperti ini, penting untuk tidak memaksa mereka berbicara, tetapi menciptakan lingkungan yang membuat mereka merasa aman untuk menyampaikan pendapatnya.

Salah satu tantangan terbesar adalah ketika anak merasa takut salah atau khawatir bahwa pendapatnya tidak akan diterima. Untuk mengatasi hal ini, kamu bisa menunjukkan bahwa semua pendapat mereka dihargai, bahkan jika itu berbeda dengan pendapat orang lain. Misalnya, jika anak mengungkapkan bahwa mereka tidak suka suatu makanan, jangan langsung menyanggah atau memarahi mereka, tetapi tanyakan alasannya dengan lembut dan hargai apa yang mereka rasakan.

Selain itu, ada juga anak yang lebih suka mengekspresikan diri melalui cara lain, seperti menulis atau menggambar. Jika anak merasa lebih nyaman menulis daripada berbicara, kamu bisa memberikan buku harian atau jurnal sebagai media untuk mereka menuangkan pikiran. Seiring waktu, mereka akan lebih percaya diri untuk mengungkapkan pemikiran mereka secara lisan.

Pentingnya Membentuk Anak yang Mampu Berbicara dengan Jelas dan Percaya Diri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun