Mengajar di SMPN 1 Sumedang, tertarik dengan dunia kepenulisan. Ibu dari tiga anak. Menerbitkan kumpulan cerita pendek berbahasa Sunda berjudul 'Mushap Beureum Ati' (Mushap Merah Hati) pada tahun 2021. Selalu bahagia, bugar dan berkelimpahan rejeki. Itulah motto rasa syukur saya setiap hari.
Tradisi Sasauran: Membangunkan Sahur dengan Semangat
Pelaksanaan Tradisi Sasauran
Tradisi Sasauran biasanya dilaksanakan pada tengah malam, sekitar pukul 2 dini hari, dan berlangsung hingga menjelang waktu imsak.
Sekelompok pemuda yang terdiri dari beberapa orang akan berkeliling kampung dengan membawa berbagai alat musik tradisional, seperti bedug, kentongan, dan gamelan. Mereka memainkan alat musik tersebut dengan riang gembira, sambil mengumandangkan takbir dan salawat.
Suasana di sekitar kampung menjadi hidup dan meriah ketika Sasauran berlangsung. Cahaya obor yang membakar memberi warna tersendiri pada malam Ramadan yang sunyi.
Masyarakat yang terbangun dari tidurnya dengan suara riuh rendah Sasauran, dengan sigap bersiap untuk menunaikan ibadah sahur. Semangat kebersamaan dan gotong royong begitu kental terasa dalam tradisi ini.
Contoh Tradisi Sasauran di Sumedang
Di berbagai desa di Sumedang, tradisi Sasauran memiliki ciri khas dan nuansa tersendiri. Berikut beberapa contoh tradisi Sasauran di beberapa desa di Sumedang:
1. Sasauran di Desa Citali:
Di Desa Citali, tradisi Sasauran diiringi dengan alat musik tradisional yang khas. Para pemuda berkeliling desa dengan membunyikan bedug dan kentongan sambil mengumandangkan takbir dan salawat.
2. Sasauran di Desa Cibugel:
Desa Cibugel menghadirkan pawai obor keliling kampung sebagai bagian dari tradisi Sasauran mereka. Cahaya dari obor menghiasi malam Ramadan sambil menambah semaraknya tradisi ini.