(Mantan) Musisi, (mantan) penyiar radio dan (mantan) perokok berat yang juga penyintas kelainan buta warna parsial ini, penikmat budaya nusantara, buku cerita, sepakbola, kopi nashittel, serta kuliner berkuah kaldu ... ingin sekali keliling Indonesia! Email : kaekaha.4277@yahoo.co.id
Masjid Sultan Suriansyah "Mesin Waktu" Menuju Sejarah Berdirinya Kota Banjarmasin
Jika anda berkesempatan berkunjung ke Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!, belum lengkap kalau anda melewatkan satu-satunya monumen sekaligus saksi sejarah yang tersisa dari kronik berdirinya Kota Tua Banjarmasin, yaitu Masjid Bersejarah Sultan Suriansyah yang menurut catatan sejarah, didirikan Sultan sesaat setelah resmi diangkat menjadi pemimpin di Kesultanan Banjar pada tanggal 24 September 1526.
Lokasi situs Masjid Sultan Suriansyah yang tahun ini genap berusia 5 abad alias 500 tahun ini di jalan Alalak Utara RT 5, Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, tidak jauh dari kompleks makam kesultanan yang dulunya memang wilayah Kotaraja atau ibu Kota Kesultanan Banjar.
Jika tidak terdengar raungan mesin mobil, sepeda motor atau juga kelotok (perahu bernesin tempel;bahasa Banjar) yang lewat di jalan raya/sungai yang mengapit bangunan masjid, itikaf di bangunan cagar budaya yang dilindungi negara melalui UU No.11 Tahun 2010 ini, seperti dilemparkan oleh mesin waktu ke masa awal berdirinya kesultanan Banjar di abad 16.
Bagaimana tidak? Arsitektur kuno masjid, berikut eksterior dan interiornya yang dibangun atas "bantuan" Sultan Trenggono, Sultan ke-3 Kerajaan Demak dengan konstruksi full menggunakan kayu ulin atau kayu besi (Eusideroxylon zwageri) yang "mengawinkan" desain Masjid Demak dengan kearifan lokal Banjar ini benar-benar menghadirkan suasana masa lampau yang begitu kental.
Luar biasanya, keaslian struktur dasar bangunan masjid berukuran 15,5 x 15,7 meter dengan tinggi 10 meter yang berdiri di area lahan seluas 30 x 25 meter ini, masih utuh dan terjaga sampai sekarang.
Baca Juga Yuk! Berusaha Melazimkan Setiap Detik Waktu Kita Bernilai Ibadah
Begitu juga dengan semua elemen konstruksi fisik masjid, seperti tawing (dinding), lawang (pintu), lalungkang (jendela), atang (pagar teras), lantai, juga atap sirap yang semuanya terbuat dari kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), semuanya masih tetap utuh, kuat dan kokoh terjaga sampai sekarang, selayaknya bangunan bahari (dulu;bahasa Banjar) yang biasanya dianggap bertuah oleh masyarakat.
Nuansa bahari-nya Masjid Sultan Suriansyah semakin kuat kalau kita lebih detail memperhatikan berbagai ornamen cantik berupa simbol-simbol yang terpahat pada pada detil-detil bangunannya yang tentunya mempunyai makna filosofis tertentu
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025