(Mantan) Musisi, (mantan) penyiar radio dan (mantan) perokok berat yang juga penyintas kelainan buta warna parsial ini, penikmat budaya nusantara, buku cerita, sepakbola, kopi nashittel, serta kuliner berkuah kaldu ... ingin sekali keliling Indonesia! Email : kaekaha.4277@yahoo.co.id
Bisa Kok "Nggak Nyampah" Sejak dalam Pikiran, Ini Caranya!
Siapa haja nang katuju babarasih, sama haja mambarasihi hati saurang
Siapa saja yang suka bersih-bersih, sama saja dengan membersihkan hatinya sendiri, begitulah kira-kira terjemahan bebas dari kalimat berbahasa Banjar di atas. Kalimat di atas pertama kali saya dengar dari isteri saya ketika meminta saya untuk babarasih atau bersih-bersih rumah kalau kebetulan dia sedang uyuh (capek;bahasa Banjar) atau kebetulan sedang ada aktifitas lain yang lebih urgent.
Pernah sih saya tanya darimana dalilnya quote berbahasa Banjar di atas itu? Isteri saya bilang dari abah (ayah/bapak;bahasa Banjar) dan abah katanya juga dari abahnya-abah alias dari kai atau kakek. Waduh! Naga-naganya nih, sepertinya kalau diteruskan bakalan panjang urusan abah ke abah ini. Bisa-bisa sampai ke Nabi Adam...He...he...he...Ya sudahlah!
Baca Juga Yuk! Berusaha Melazimkan Setiap Detik Waktu Kita Bernilai Ibadah
Terlepas dari mana sumber dari quotes atau ungkapan diatas, setelah saya pikir-pikir sepertinya ada benernya juga sih! Kalau kita suka bersih-bersih, lingkungan di sekitar kita jadi bersih, kita yang tinggal disitu otomatis akan merasa nyaman.
Pandangan mata tidak terganggu sampah berserakan, hidung tidak tercium bau busuk sampah, tidak ada juga lalat yang mengganggu aktifitas, pikiran jadi fresh dan ujung-ujungnya hati juga yang terasa bersih, merasa lebih tenang dan damai. Betul?
Luar biasanya, menurut isteri saya, gara-gara mantra diatas sudah ditanamkan kepadanya, berikut kalimat-kalimat sugestif pendampingnya secara berulang-ulang sejak masih balita (maklum anak perempuan, biasanya kan sejak kecil memang sudah diperkenalkan dengan pekerjaan domestik ), ternyata efeknya tidak hanya sekedar membuatnya terbiasa untuk babarasih saja.
Mungkin karena menjadi aktifitas yang berulang-ulang terus alias menjadi rutinitas, tentu akhirnya juga merdorong isteri untuk merancang pola kerja yang lebih efektif dan efisien.
Tapi, pikiran efektif dan efisien ala kanak-kanaknya saat itu, lebih mengarah pada prinsip selayaknya pesulap atau malah prinsipnya kanak-kanak yang malas ya, he...he...he...! Bersih-bersihnya sekali saja, tapi hasilnya bisa bertahan untuk beberapa hari. Walaaaah cerdas juga ternyata ini anak malas, pikir saya. He...he...he..!
"Dari sinilah, istri saya akhirnya kepikiran ide, kenapa nggak sejak dari sumbernya saja sampah di kelola!" Kata Isteri saya.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025