(Mantan) Musisi, (mantan) penyiar radio dan (mantan) perokok berat yang juga penyintas kelainan buta warna parsial ini, penikmat budaya nusantara, buku cerita, sepakbola, kopi nashittel, serta kuliner berkuah kaldu ... ingin sekali keliling Indonesia! Email : kaekaha.4277@yahoo.co.id
Ketika Tahu Campur Buatan Ibu Tak Pernah Gagal Memanggilku Pulang
Ini berbeda lagi dengan keahlian alm. bude ketiga yang terkenal di kampung dengan olahan tepo-nya, yaitu olahan sejenis lontong khas dari belahan sebelah timur kaki gunung Lawu yang kita kenal sebagai kawasan ex-Karesidenan Madiun yang saat ini didalamnya terdapat 5 pemerintahan kabupaten dan 1 pemerintahan kota. Ada yang tahu nama-nama daerahnya!?
Olahan tepo atau lontong khas Mediunan ini mempunyai beberapa varian masakan, yaitu tepo kecap atau tepo tahu, tepo sayur yang lebih mirip dengan lontong sayur, tapi sayurnya adalah sayur lombok alias sayur cabe khas Mediunan yang citarasanya gurih-asin dan pedas.
Sedangkan yang terakhir adalah tepo pecel yang selayaknya lontong pecel, bisa dinikmati dengan pecel Madiun yang otentik. Dari sini juga, Bude ini juga paling jago kalau membuat sambel pecel khas Madiun dengan citarasanya yang cenderung gurih-asin dan pedas.
Baca Juga Yuk! Menu Baru dan Keluarga Baru, "Insight" Buka Puasa Seru di Pedalaman Kalimantan
Nah untuk ibu, beliau punya olahan kuliner andalan yang sejak dulu sanggup membius siapa saja yang pernah mencobanya hingga akhirnya sekarang menjadi kuliner identik disetiap lebaran di ruang family hub keluarga besar kami, yaitu tahu campur, kuliner khas dari Lamongan saudara tiri Soto Lamongan.
Tahu campur inilah satu dari sekian banyak kuliner olahan ibu yang paling saya suka. Inilah kuliner yang satu dekade terakhir tidak pernah gagal memanggil saya dan sepupu-sepupu saya yang tersebar di seluruh Indonesia untuk selalu pulang ke family hub di ramah kami.
Pernah menikmati tahu campur khas Lamongan ini sebelumnya? Itu lho, kuliner berkuah kaldu sapi harum dan gurih yang dalam penyajiannya ditambahkan kondimen khas berupa petis udang dan beberapa isian yang bikin sajian kuliner ini tampak ramai dan meriah selayaknya nusantara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Serius, ini yang menjadikan tahu campur jadi enak banget!
Petis udang, kondimen khas dari masakan Jawa Timuran ini merupakan ruh atau nyawa dari sedapnya racikan tahu campur dan ibu saya, sejak dulu juga mempunyai petis andalan dari pabrikan rumah tangga langganan di Sidoarjo sebagai bumbu utama untuk membuat tahu campur dan juga rujak petis Suroboyoan olahan ibu yang sejak dulu citarasanya memang terkenal nggak kaleng-kaleng!
Baca Juga Yuk! Mindfull Eating untuk Ramadan dan Kehidupan yang Sehat Penuh Berkah
Menurut ibu, selain petis khusus ibu juga menambahkan sedikit gula merah dan juga bawang goreng saat mengulek petis udang di piring, sebelum ditambahkan dengan bahan-bahan pelengkapnya, seperti mie kuning, tahu goreng, lentho, selada segar, kecambah atau tauge, daging sapi dan atau koyor alias kikil dan tulang rawan bagian tertelan sapi plus kerupuk udang yang citarasanya juga selalu ngangeni!
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025