Penulis Buku: - "Spiritual Great Leader" - "Merancang Change Management and Cultural Transformation" - "Penguatan Share Value and Corporate Culture" - "Corporate Culture - Master Key of Competitive Advantage" - "Aktivitas Ekonomi Syariah" - "Model Dinamika Sosial Ekonomi Islam" Menulis untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman agar menjadi manfaat bagi orang banyak dan negeri tercinta Indonesia.
Uzlah dan Itikaf, Menemukan Ketenangan dalam Kesunyian

Besok malam, kita sudah memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan dan itikaf merupakan kesempatan luar biasa untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merefleksikan perjalanan spiritual kita. Dalam kesunyian malam, jauh dari hiruk-pikuk dunia, seseorang dapat benar-benar merasakan ketenangan hati dan kebersamaan dengan Sang Pencipta.
Rasulullah sendiri sering mengkhususkan sepuluh malam terakhir untuk i'tikaf, mencari malam penuh keberkahan, yakni Lailatul Qadar.
Uzlah Rasulullah di Gua Hira: Menyiapkan Diri untuk Wahyu
Sebelum turunnya wahyu pertama, Rasulullah menjalani fase perenungan mendalam. Sejak muda, beliau sudah merasakan kegelisahan atas kondisi masyarakat Makkah yang masih tenggelam dalam kepercayaan syirik dan moralitas yang rusak.
Keadaan ini mendorongnya untuk mencari ketenangan dan pencerahan dengan cara menyendiri (uzlah) di Gua Hira.
Gua Hira, yang terletak di Jabal Nur, menjadi tempat bagi Rasulullah untuk menjauh dari hiruk-pikuk dunia. Di sanalah beliau merenung, berzikir, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Uzlah yang dilakukan Muhammad saw bukan sekadar pencarian spiritual pribadi, tetapi juga merupakan bentuk persiapan Ilahi sebelum mengemban tugas kerasulan. Selama tiga tahun, terutama di bulan Ramadhan, Rasulullah menghabiskan waktu di sana, hingga akhirnya wahyu pertama turun.
Uzlah ini mengajarkan kepada kita bahwa terkadang, kita perlu mengambil jeda dari kesibukan dunia agar dapat mendengar suara hati dan mendekat kepada Allah untuk menjadi Mukmin Sejati sepanjang masa.
Itikaf di 10 Malam Terakhir Ramadan: Bentuk Uzlah Modern
Bagi umat Islam, itikaf adalah bentuk uzlah yang dapat dilakukan dalam kehidupan modern. Di 10 malam terakhir Ramadhan, banyak Muslim berdiam diri di masjid untuk beribadah, menghindari gangguan duniawi, dan memperbanyak munajat kepada Allah.
Itikaf bukan hanya tentang tinggal di masjid, tetapi juga membangun kedekatan dengan Allah, memperbanyak doa, membaca Al-Qur'an, serta merenungi perjalanan hidup. Sebagaimana Rasulullah menjadikan uzlah di Gua Hira sebagai momen kontemplasi, kita pun dapat menjadikan itikaf sebagai waktu untuk introspeksi diri dan meningkatkan kualitas ibadah.
Rasulullah sendiri rutin melakukan itikaf di 10 malam terakhir Ramadan, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis:"Rasulullah saw beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sampai beliau wafat." (HR. Bukhari dan Muslim)
Melalui itikaf, kita belajar untuk menepi sejenak dari kesibukan dunia, meresapi makna kehidupan, dan memperkuat hubungan dengan Allah.
Refleksi Pengalaman Itikaf di Masjidil Haram
Bagi siapa pun yang pernah merasakan itikaf di Masjidil Haram, pengalaman ini sulit diungkapkan dengan kata-kata. Berada di hadapan Ka'bah di tengah malam, mendengarkan lantunan ayat suci dari imam yang suaranya merdu, hingga merasakan kedekatan luar biasa dengan Allah---semua itu adalah momen yang begitu menyentuh hati.
Dalam suasana yang hening, air mata mengalir deras saat shalat lail, bukan karena kesedihan, melainkan karena kebahagiaan spiritual yang mendalam. Itikaf di Masjidil Haram bukan hanya ibadah, tetapi juga perjalanan ruhani yang mengajarkan makna ketulusan, ketenangan, dan ketergantungan mutlak kepada Allah.
Doa yang selalu ingin saya panjatkan dalam momen-momen tersebut adalah: "Ya Allah, mampukan aku menjadi Mukmin Sejati Sepanjang Masa, bukan hanya menjadi bunglon ibadah di bulan Ramadan..."
Penutup: Menemukan Makna Kesunyian dalam Ibadah
Uzlah Rasulullah di Gua Hira dan itikaf di 10 malam terakhir Ramadhan mengajarkan kita bahwa dalam kesunyian, ada cahaya. Dalam menjauh dari dunia, ada kedekatan dengan Allah. Dan dalam kesendirian, ada kekuatan spiritual yang mampu mengubah hati dan kehidupan kita.
Bagi yang pernah merasakan itikaf, pasti memahami betapa damainya menghabiskan waktu dengan membaca Al-Qur'an, berzikir, dan berdoa di tengah suasana masjid yang syahdu. Di momen-momen seperti ini, kesadaran akan kefanaan dunia semakin kuat, dan hati semakin yakin bahwa kebahagiaan sejati ada dalam ketundukan kepada Allah.
Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk menjalani i'tikaf dengan khusyuk dan meraih keberkahan Ramadhan.
Terus Semangat!!!
Tetap Semangat...
Penulis: Merza Gamal (Pensiunan Gaul Banyak Acara)
Content Competition Selengkapnya
Suka Duka Menyiapkan Sajian Idul Fitri
MYSTERY TOPIC
Mystery Topic 7
Surat Cinta untuk Ramadan Tahun Depan
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025