Menantang diri untuk menulis. Berbagi cerita melalui untaian kata
Bagaimana seharusnya masyarakat bersikap terhadap perempuan berhijab, bahkan bercadar, yang berolahraga? Kenapa di ruang publik dan medsos masih muncul respons tidak humanis terhadap pilihan berpakaian dan aktivitas mereka?
Terima kasih atas pertanyannya, Pak Akbar.
Bagi saya pribadi, olahraga adalah ruang untuk bergerak dan menjaga kesehatan. Ketika ada perempuan berhijab atau bercadar berolahraga di samping saya, yang saya lihat adalah langkahnya. Bahkan sering muncul rasa salut karena tetap memilih bergerak dengan pilihan yang diyakininya.
Dalam ruang publik, wajar ada perbedaan pilihan dan penampilan. Selama aktivitas tersebut tidak melanggar aturan atau mengganggu ketertiban, setiap orang memiliki hak yang sama untuk hadir dan berolahraga. Ruang publik justru mengajarkan kita untuk saling menghormati keberagaman.
Mbak Nelly, saya rutin Japanese Walking 30 menit di BKT. Saat puasa, bagaimana strategi menjaga stamina agar tidak drop di siang hari? Lebih ideal dilakukan pagi hari atau justru menjelang berbuka agar aman dari dehidrasi? Thanks.
Hai, Mba Ditta đ¤Wah keren bangett sudah rutin Japanese Walking 30 menit di BKT!
Konsisten 30 menit itu luar biasa! Aku belum pernah coba jalan di BKT, seru kayaknya.
Soal waktu olahraga saat puasa, ini memang sering jadi pertanyaan, termasuk aku. Hehehe
Dari beberapa diskusi dan webinar yang pernah aku ikuti, intinya sebenarnya dikembalikan lagi pada kebiasaan dan kondisi tubuh masing-masing.
Kalau sudah terbiasa jalan pagi dan merasa tetap bertenaga sampai siang, silakan lanjut pagi. Tapi pastikan sahurnya cukup cairan dan asupan agar ada energi.
Kalau khawatir dehidrasi atau merasa cepat lemas, menjelang berbuka bisa jadi pilihan yang lebih aman. Karena setelah selesai, kita bisa langsung mengganti cairan.
Kalau masih ragu, bisa dicoba 15â20 menit dulu di awal Ramadan untuk melihat respons tubuh. Tidak perlu langsung memaksakan 30 menit. Tubuh juga sedang beradaptasi.
Biasanya Mba Ditta lebih nyaman jalan pagi atau sore? đ
Assalamualaikum, Kak Nelly. Perkenalkan saya Isti dari Batang, Jawa Tengah. Bagaimana caranya menjaga konsistensi menulis bagi ibu yang berkarir, punya 2 anak (kelas 1 SD dan bayi 2 tahun). Jujur, saya lelah tapi ingin berkarya.
Waâalaikumussalam, Kak Isti đ¤Masya Allah, kebayang sibuknya mengurus dua kesayangan, bayi 2 tahun dan kakaknya yang kelas 1 SD.
Salam kenal buat keduanya ya, Kak Isti.
Kalau berdasarkan pengalaman, sebelum bicara soal konsistensi, aku biasanya kembali dulu ke alasan: kenapa aku ingin menulis?
Apakah untuk tugas kantor? Untuk aktualisasi diri? Atau karena memang ada sesuatu yang ingin dibagikan?
Nah, alasan itu yang jadi âlonceng pengingatâ saat rasa malas datang atau tubuh lelah.
Aku saja sering merasa lelah, apalagi untuk Kak Isti yang berkarya di rumah dan di luar rumah.
Selama beberapa bulan ke belakang, aku belajar satu hal penting: konsisten bukan berarti memaksakan diri setiap hari harus produktif.
Apalagi menulis, pasti ada âmoodnyaâ tersendiri. Karena itu, kadang aku bertanya, âHari ini masih bisa menulis 10â15 menit nggak?â Kalau bisa, aku mulai dari kecil. Kalau memang lelah dan tak bisa, aku biasanya istirahat tanpa rasa bersalah.
Buat aku, konsistensi itu bukan tentang selalu banyak, tapi tentang tetap kembali. Meski sedikit.
Dan mungkin untuk Kak Isti, menulis tidak harus panjang. Bisa satu paragraf di ponsel saat anak tidur. Bisa mencatat ide dulu tanpa langsung jadi artikel. Pelan-pelan tapi tetap terhubung dengan mimpi berkaryanya.
Bismillah, in syaa Allah bisa.
Saya percaya perubahan tidak hanya soal program, tetapi soal cara berpikir. Mohon pandangan Kak Nelly tentang bagaimana pejuang literasi di jalan sunyi dapat tetap teguh sekaligus strategis dalam membangun dampak jangka panjang.
Bagaimana mengubah gerakan yang awalnya bersifat âpersonal callingâ menjadi gerakan kolektif yang berkelanjutan?
Apakah dalam membangun gerakan sosial pendidikan, pendekatan emosional lebih penting daripada pendekatan rasional? Atau justru sebaliknya?
Saat dukungan eksternal minim dan apresiasi hampir tidak ada, bagaimana menjaga konsistensi agar tidak lelah secara mental?
Strategi apa yang efektif untuk membangun empati sosial orang tua terhadap gerakan pendidikan berbasis komunitas?
saya ingin bertanya: Bagaimana cara menggeser pola pikir masyarakat yang masih melihat literasi sebagai aktivitas tambahan, bukan kebutuhan utama?
Masyarakat dan orang tua anak belum tumbuh empati sosial terhadap pentingnya pendidikan. Anak-anak datang membaca, tetapi dukungan lingkungan belum sepenuhnya hadir. Kadang perjuangan ini terasa seperti berjalan di jalan sunyi.
Pertanyaan Anda sudah terkirim.
Apakah Anda yakin ingin menghapus pertanyaan ini?
Apakah Anda yakin ingin menghapus jawban ini?
lorem ipsum dolor sit amet adipiscing elite lorem ipsum amet consectetur lorem ipsum dolor sit amet adipiscing elite lorem ipsum amet consecteturlorem ipsum dolor sit amet adipiscing elite lorem ipsum amet consectetur