Phadli Harahap
Phadli Harahap Freelancer

Seorang Ayah yang senang bercerita. Menulis dan Giat Bersama di sabumiku.com

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Menjaga Kondisi Kesehatan Tubuh, Wasiat dari Ayah

7 Mei 2019   21:49 Diperbarui: 7 Mei 2019   22:20 31
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Menjaga Kondisi Kesehatan Tubuh, Wasiat dari Ayah
pixabay

Kalau diingat-ingat dulu, suara Ayah dan mamak menjadi "alarm hidup" membangunkan anak-anaknya berpuasa. Jika mamak tak ampuh lagi, maka Ayah berteriak, "kek mananya ini mau puasa kau?" Maka, harus berdiri tegak dan segeara keluar dari kamar.

Begitulah kedua orang tua saya selalu membangunkan 6 orang anaknya untuk berpuasa dari kecil. Seingat saya, sejak kelas 1 SD sudah belajar berpuasa. Tanpa dipaksa, tetapi mencontoh dari kedua orang tua serta kakak dan abang.

Ayah tak banyak bicara dan jarang mendikte anak-anaknya untuk harus berpuasa dan shalat. Dia lebih memberi contoh. Ketika makan sahur, Ayah biasanya makan dalam rentang satu jam sebelum sahur. Mamak akan menyajikan ikan, sayuran, dan tentu saja nasi. Kami jarang makan ayam. Kalau pun ada seminggu sekali, menu ayam itu seperti makanan mewah waktu kecil dulu.

Ayah selalu makan dengan santai sambil mengobrol dan bercanda dengan anak-anaknya di meja makan. Dulu, ada meja makan dari kayu di ruang makan. Setiap orang duduk dengan rapih di meja makan. Kai makan bersama sekeluarga. Jadilah obrolan satu meja bersautan-sautan dari satu anak dengan anak lainnya.

Tak jarang anak yang lebih kecil menangis karena diusilin abang dan kakaknya. Kami sering makan hingga batas waktu imsak. "Enggak usah cepat-cepat kali makan sahur, biar kuat kalian puasanya," kata Ayah menjelaskan kenapa makan sahur hingga batas waktu imsak kepada anak-anaknya.

Selepas makan sahur, Ayah tak langsung tidur. Melainkan, melaksanakan salat subuh. Dia terkadang shalat berjamaah ke masjid dan sering pula menjadi imam melaksanakan salat bersama anak-anaknya.

Setelah anak-anaknya mulai remaja, Ayah lebih sering shalat sendiri atau pergi ke masjid. Karena anak-anaknya mulai memilih masuk ke kamar setelah makan sahur dan tertidur tanpa shalat subuh.

Selepas shalat subuh, Ayah dan Mamak terus beraktivitas. Kalau mamak lebih kegiatan domestik sebagai ibu rumah tangga. Dari bersih-bersih rumah, mencuci baju, dan mengurus anak-anaknya. Sedangkan Ayah adalah sosok seorang bapak yang bertanggung jawab mencari nafkah.

Sebelum mulai berkerja. Ayah biasanya lari pagi atau jalan pagi. Dia terbiasa olahraga pagi dalam jarak yang cukup jauh. Pergi sekitar pukul 5.30 dan kembali setelah pukul 07.00 wib. Olahraga pagi selalu konsisten dilakukannya paling sedikit dua kali seminggu.

Hingga usianya menjelang 70 tahun, Ayah masih tampak segar dan kuat, dan jalannya masih tegak. Kalau kata Ayah, biar puasa pun harus olahraga. Orang yang puasa bisa sambil olahraga itu justru membuat semakin kuat. Bukan bikin haus dan lapar.

Setelah berolah raga, melakukan pendinginan tubuhnya. Ayah pergi mandi dan siap-siap mulai berkerja. Ayah bukan pekerja kantoran. Dia berkerja di rumah dan mempunyai usaha bengkel sendiri. Dari bengkel itulah, dia menghidupi anak-anaknya, dan membiayai sekolah hingga semuanya menjadi sarjana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun