Tamita Wibisono
Tamita Wibisono Freelancer

Penulis Kumpulan Cerita Separuh Purnama, Creativepreuner, Tim Humas dan Kemitraan Cendekiawan Nusantara

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Melali ke Kintamani, Chill & Heal ala Bali: Pergi Penat-Pulang Sehat Bahagia Penuh Energi

28 April 2023   20:55 Diperbarui: 28 April 2023   20:58 2694
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Melali ke Kintamani, Chill & Heal ala Bali: Pergi  Penat-Pulang Sehat Bahagia Penuh Energi
dok.pri mencecap nikmatnya kopi arabika Kintamani dengan pemandangan alam, chill and heal

Berangkat pagi hari kembali sesaat sebelum malam menjelang dengan berkendara roda dua adalah sebentuk heal and chill yang paripurna. Menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam  dari Denpasar menuju Bangli melalui Ubud - Tegalalang sungguh menjadi sebuah petualangan alam yang tak tergantikan.

dok.pri Gerbang Desa Batur Selatan 
dok.pri Gerbang Desa Batur Selatan 

dok.pri Saat Senja Menjelang di Desa Songan
dok.pri Saat Senja Menjelang di Desa Songan

Njajah desa milang kori, begitu istilah orang Jawa menyebut perjalanan yang penuh makna keluar masuk desa menghitung pintu rumah warga untuk menemukan sebuah makna kehidupan, mengenal keberagaman budaya hingga mendapatkan kesan batin mendalam. Mengendurkan urat saraf dengan senyum sapa ramah kepada warga yang kita jumpai. Jangan ragu untuk sekedar bertanya jalan atau lokasi tujuan, mereka dengan ramah akan menunjukkan. 

dok.pri Energi alam Kintamani Bali Membuat aura berseri
dok.pri Energi alam Kintamani Bali Membuat aura berseri

Sejenak singgah di kawasan Ubud atau menikmati hamparan terasiring Tegalalang menjadi bonus awal energi alam sebelum tubuh dan fikiran direcharge sempurna setibanya di Kintamani.  Banyak ragam pilihan chill and heal hingga destinasi welness tourism di area Kintamani. Berendam di sumber mata air hangat salah satunya. Namun bagi yang belum merasa perlu membutuhkan seperti halnya saya, cukup mencari tempat ngopi dengan suguhan pemandangan alam gabungan Gunung dan Danau Batur adalah pilihan santai.

Banyak terdapat tempat kongkow baik yang bernuansa sederhana, kekunoan hingga yang modern ala cafe masa kini. Sajian menu kopi Arabica Kintamani menjadi pilihan wajib. Harganyapun ramah di kantong  berkisar Rp. 20.000-Rp. 30.000 saja per cangkir kopi dengan cita rasa alami untuk kelas Cafe Modern. Sementara jika kita nyaman mencecap kopi di warung lokal haranyapun tak lebih dari 10.000 rupiah untuk secangkir kopi Bali Kintamani asli bonus pemandangan alam yang sarat energi.

dok.pri Tipat Tahu pedagang keliling di Desa Kintamani
dok.pri Tipat Tahu pedagang keliling di Desa Kintamani

Jika beruntung, sepanjang perjalanan keluar masuk pedesaan yang asri kita menjumpai pedagang keliling kuliner tradisional. Salah satunya tipat tahu, atau ketupat tahu. Kuliner street food yang banyak terdapat di beberapa lokasi di Bali. Seporsi tipat tahu ala Kintamani harganya cukup membuat saya melongo, hanya 5000 rupiah saja lho.

dok.pri penjula minuman tradisional Loloh cem-cem di Desa Songan
dok.pri penjula minuman tradisional Loloh cem-cem di Desa Songan

dok.pri Loloh Cem-cem Segar alami 
dok.pri Loloh Cem-cem Segar alami 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun