zaldy chan
zaldy chan Administrasi

cintaku tersisa sedikit. tapi cukup untuk seumur hidupmu

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Labirin Nostalgia Masa Kecil di Bulan Ramadan

2 April 2023   23:55 Diperbarui: 3 April 2023   00:25 1068
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Labirin Nostalgia Masa Kecil di Bulan Ramadan
Ilustrasi anak-anak bermain/ foto: pixabay.com

Aku kembali tersesat di labirin kenangan. Usai ketika akan menulis tema samber hari 2: Nostalgia Masa Kecil di Bulan Ramadan.

Dan, aku tenggelam lebih dalam setelah membaca unggahan artikel dari beberapa Kompasianer pada hari ini. Ternyata, bulan Ramadan menyimpan begitu banyak kenangan dalam ingatan.

Gawatnya, aku malah jadi gagap sendiri untuk menentukan sudut tulisanku. Wong, nyaris mirip-mirip dengan tulisan teman-teman Kompasianer. Hiks...

Akhirnya, aku pilih menulis puzle nostalgia Ramadan pada masa sekolah dasar. Itupun sependekingatku. Boleh, kan?

Pertama. Kekadang, dibangunkan tidur untuk Sahur itu, menjengkelkan!

Adakah yang merasa senang dibangunkan ketika tidur nyenyak? Apatah lagi jika pusaran mimpi lagi seru-serunya? Bagiku, itu menjengkelkan! Apalagi, Kota Curup tempat tinggalku itu, berudara sejuk. Gegara terletak di kaki Bukit Barisan. Tapi, aku tak berani menunjukkan rasa jengkel itu. Wong, yang bangunkan itu ibuku!

Jadi, "perlawanan" yang dilakukan adalah: pura-pura tidur lagi. Biar dibangunkan lagi! Jika mesti bangun dan dipaksa bangkit dari tempat tidur, maka aku akan berlama-lama di kamar mandi, ketika membasuh muka dan tangan.

Bukan orangtua, jika tak mampu menghadapi "perlawanan" semacam itu, kan? Ada banyak cara yang dilakukan oleh ibuku. Semisal: memapah sambil memelukku agar bangkit dari tempat tidur, terus diantar serta ditunggui saat berada di kamar mandi. Lah, gimana rasanya ditunggu?

Kekadang, dibisikkan kalau menu sahur yang ibuku hidangkan adalah lauk kesukaanku! Nah, biasanya, walau setengah terpaksa, aku yo manut untuk sahur.

Dan, kenangan seperti itu, menjadi panduanku setelah menjadi orangtua. Hal-hal yang pernah dilakukan ibuku padaku ketika membangunkan sahur, kulakukan tiruannya pada anak-anakku. Walau tak persis sama dan butuh modifikasi sana-sini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun