Seekor mahasiswa perantauan di Yogyakarta yang aktif membahas seputar kehidupan di Yogyakarta, berbagai permasalahan sosial, tren viral seputar game dan film, sejarah, serta kisah cinta yang paling mendalami peran.
Lebaran Minimalis, Menemukan Makna di Balik Sederhana dan Penuh Kebahagiaan

Akhirnya, kita sampai di hari kemenangan. Ramadan yang penuh keberkahan dan kebersamaan sudah resmi kita tinggalkan. Rasanya baru kemarin kita sahur bareng, ngabuburit nyari takjil, dan berbuka dengan teman-teman. Sekarang, gema takbir yang semalam menggetarkan hati sudah berganti dengan momen salat Idulfitri, salam-salaman, dan kumpul keluarga.
Lebaran tahun ini terasa beda. Enggak ada kemewahan berlebihan, enggak ada pesta besar, tapi justru di balik kesederhanaan ini, kebahagiaan itu terasa lebih nyata. Apa sih sebenarnya arti kesederhanaan? Kenapa lebaran kali ini terasa lebih minimalis, tapi tetap hangat dan bermakna?
Di sini, aku mau berbagi cerita tentang lebaran tahun ini. Tentang tawa dan kebersamaan, tentang sahabat yang sudah seperti keluarga, juga tentang momen haru saat ziarah ke makam orang-orang tersayang. Lebaran itu enggak selalu harus mewah, yang penting adalah bagaimana kita menikmatinya dengan penuh syukur dan kebahagiaan.
Pagi-pagi sempat kaget, hampir lupa kalau ini sudah Lebaran. Rasanya seperti masih Ramadan, eh ternyata enggak ada sahur! Akhirnya, kami makan sedikit dulu sebelum berangkat salat Idul Fitri.
Kali ini saya mudik ke kampung dan merayakan Lebaran bersama keluarga besar. Suasana pagi yang indah, orang-orang berbondong-bondong ke masjid, udara sejuk, semuanya terasa damai.
Tapi ada satu hal yang bikin aku penasaran. Kenapa, ya, daun dan pohon selalu terlihat diam saat salat Id? Kayak ada momen di mana alam pun ikut hening, ikut khusyuk. Mungkin ada penjelasannya, atau mungkin kita hanya kurang memperhatikan. Tapi ya sudah, itu urusan nanti.
Salat Ied kali ini juga berbeda dari tahun lalu. Dulu saya pernah kesiangan, telat mandi, dan cuma kebagian satu rakaat doang. Tapi sekarang, saya bangun lebih awal, berangkat lebih cepat, dan bisa menikmati khutbah yang meresap di hati.
Setelah itu, kami mulai tradisi keliling ke rumah tetangga, saling bersalaman, saling memaafkan. Hangat banget suasananya, meskipun Lebaran kami sangat minimalis.
Tapi, kenapa sih Lebaran kali ini terasa lebih sederhana? Apa sebenarnya makna di balik kesederhanaan ini?
Dari tahun ke tahun, keluarga kami memang merayakan Lebaran dengan cara yang simpel. Tidak ada yang mewah, tapi tetap penuh kebahagiaan. Ini beberapa tips kami supaya Lebaran sederhana tetap terasa spesial:
1. Pakai Baju Lama Tapi Tetap Modis
Enggak perlu beli baju baru setiap tahun. Yang penting, baju lama masih bagus, nyaman, dan bisa dipadupadankan biar tetap stylish. Kalau memang perlu beli yang baru, pastikan itu sesuai kebutuhan, bukan cuma buat gaya-gayaan.
2. Bikin Kue Sendiri
Sekarang banyak resep kue Lebaran yang gampang banget dibuat. Ada juga trik nyusun snack jadi kue Lebaran ala-ala. Selain lebih hemat, bikin kue sendiri juga bisa jadi momen seru bareng keluarga. Tapi kalau memang lebih praktis beli, ya enggak masalah juga, yang penting enggak berlebihan.
3. Bersihkan dan Hias Rumah Secukupnya
Rumah yang bersih dan rapi lebih penting daripada dekorasi mahal. Keluarga kami biasanya bersih-bersih sebelum salat Id dan menata rumah sederhana tapi tetap nyaman buat tamu. Kadang, kesederhanaan justru bikin rumah terasa lebih hangat dan akrab.
Saya sempat bertanya kepada saudara saya, Mas Gilang, kenapa setiap Lebaran keluarga kami selalu merayakannya dengan sederhana. Dia menjawab, "Karena kita keluarga, ya tetap sederhana. Justru dengan kesederhanaan, rumah terasa lebih nyaman dan hangat." dan saya juga menanyakan hal yang sama kepada orang tua saya, dan mereka berkata, "Karena dalam kesederhanaan, Lebaran justru menjadi lebih bermakna dan penuh kebahagiaan." ujar mas gilang dan kedua orang tua saya.
Lebaran tiba tanpa gemerlap mewah,
Namun hati lapang, bahagia tak lelah.
Sederhana cukup, syukur pun merekah,
Kasih tersirat di senyum yang ramah.
Dari semua itu, aku sadar bahwa Lebaran bukan soal baju baru, makanan melimpah, atau rumah yang mewah. Tapi tentang kebersamaan, tentang hati yang lapang, tentang ketulusan memaafkan. Walaupun sederhana, Lebaran tetap bisa penuh makna dan kebahagiaan.
Lebaran ini mungkin enggak ada pesta besar, tapi ada canda tawa, ada kehangatan keluarga, ada momen-momen kecil yang bikin hati terasa damai. Bahkan, dalam kesederhanaan, kita bisa lebih mensyukuri hal-hal yang selama ini sering kita anggap biasa.
Jadi, buat kalian yang juga merayakan Lebaran dengan sederhana, jangan khawatir. Justru dalam kesederhanaan, ada kebahagiaan yang lebih tulus. Yang penting, jangan lupa salam-salaman, minta maaf ke keluarga, teman, dan tetangga. Dan kalau ada THR lebih, boleh lah ya disisihkan buat yang butuh… atau buat aku juga boleh, hehe.
Sekarang, setelah merayakan kemenangan ini, mari kita tetap menjaga semangat Ramadan di hari-hari berikutnya. Jadikan Ramadan bukan sekadar momen sesaat, tapi sebagai titik awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Mari kita persiapkan diri untuk Ramadan tahun depan, agar bisa menyambutnya dengan hati yang lebih bersih, ibadah yang lebih baik, dan tekad yang lebih kuat.
Selamat Lebaran, selamat hari kemenangan! Semoga Allah selalu melindungi kita, memberikan keberkahan dalam setiap langkah kita, dan mempertemukan kita lagi dengan Ramadan yang lebih indah tahun depan.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025