Part of #Commate'22- Now - KCI | Kompasianer of The Year 2019 | Fruitaholic oTY'18 | Wings Journalys Award' 16 | agungatv@gmail.com
Ujian Puasa Itu Bernama Membungkus Madumangsa
Belakangan di TikTok, sedang marak video jenaka 'lebaran core'. Melihat video berseliweran, menerbitkan senyum sembari bernostalgia. Saya mengalami sendiri, ketika duduk di bangku SD sampai SMA.
Orangtua di kampung pada umumnya, beberes dari A sampai Z menjelang hari lebaran. Alasan ibuk dan bapak saat itu, adalah untuk menghormati tamu. Sementara nenek berujar, "ben pantes disawang uwong" (biar pantas dilihat orang).
Video Ramadan core, sangat relate dengan kenyataan keseharian. Saya pernah mengalami, seminggu sebelum lebaran membantu bapak ngecat. Mulai pagar di depan rumah, sampai dinding di dalam rumah.
Ibu membersihkan kolong dapur, peralatan plastik dan segala barang tak terpakai dibuang. Teras yang plur semen, dibersihkan dari lumut yang menempel di pinggir. Rumput halaman dipapras habis, tanaman yang rimbun bernasib sama.
Soal jajanan, rupanya ibu mengikuti jejak ibu-nya -- atau nenek saya. Yaitu mengolah panganan rumahan, yang jarang ada di hari- hari biasa.
"Kalau beli mahal, mendingan masak sendiri," ujar ibu
Setiap lebaran nenek rutin membuat jenang -- atau dodol--, memasaknya berjam-jam mendatangkan tukang masak. Jenang diolah semalaman, baru selesai menjelang subuh. Btw, jenang nenek memang tiada dua.
Sementara ibu membuat madumangsa---lidah Jawa menyebut madumongso--, mengolahnya tidak sepanjang jenang. Tetapi setelah matang, proses membungkus butuh perjuangan ekstra. Dan itu tugas saya dan kakak, mengerjakan bungkus- membungkus madumongso.
Pekerjaan yang lumayan membosankan, membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Tape ketan di dua ember ukuran sedang, dibungkus kecil seukuran dua kelereng. Dengan sekali dua kali duduk, dijamin tidak bakalan selesai.
Mengerjakan tugas yang satu ini, membuat kami kehilangan waktu bermain dengan teman. Siang, sore, malam, kami duduk bersanding ember tape ketan. Tak jarang kakak beradik ini ngedumel, atas ide ibu yang luar biasa brilian ini.
Ya, ujian puasa itu bernama membungkus madumongso
----- ---
"Wis, ojo ngedumel wae, kan bisa mbungkusi sambil liat tipi," celetuk ibu
Lebaran waktu itu, ibu memasak sekira 6 kilo tape ketan. Kalau satu bungkus beratnya 4 gram, maka sekira 1500 bungkus madumongso musti diselesaikan.
Sementara empat kakak yang lain, lebih dulu merantau menyebar di kota besar. Hanya ragil dan kakak di atasnya, diandalkan untuk pekerjaan ini. Sesekali ibu ikut membungkus, selebihnya punya kesibukan di dapur.
Saya akui, Ibu orang yang paling sibuk di rumah. Tidak hanya urusan madumongso, menjadi bakal suguhan tamu yang datang. Tetapi juga ada rengginang, emping melinjo, kacang telor, mengingat ibu adalah mbarep alias dituakan.
Tak boleh ketinggalan membuat sambal kacang, biasanya untuk bawaan saudara dekat atau anak yang merantau.
Agar tidak kecapekan dan repot, ibu mempekerjakan satu orang tukang masak. Selain dirinya sendiri, juga ikut turun langsung menggoreng.
Suasana dapur lumayan hectic, dari sepekan sebelum lebaran tiba. Soal bungkus membungkus madumongso, ibu tak mau mempekerjakan orang. "eman- eman duite" ujar ibu
Sebenarnya pekerjaan membungkus, tidak membutuhkan energi banyak. Buat kami anak usia belasan tahun, tidak terlalu menarik. Apalagi kalau tape ketan nempel di tangan, bisa merembet ke kaos, ke celana dan seterusnya.
Meski tape nempel cuma sedikit, aromanya bisa kemana-mana. Btw, bau tape sebenarnya manis enak, tetapi lengketnya tetap saja membuat tidak nyaman.
Maka setelah saya mulai merantau, seperti ada perasaan lega menyertai menjelang lebaran. Bahwa sejak saat itu, saya terbebas dari tugas membungkus madumongso. Dan rupanya ibu tak kalah cerdik, punya ide lain setelah ragilnya merantau.
Yaitu meniadakan madumongso, dari daftar per-jajanan yang diolahnya sendiri. Saya anak ragil, setelahnya tidak ada anak diandalkan membungkus madumongso---hehehe.
Ujian Puasa Itu Bernama Membungkus Madumangsa
Kompasianer, bahan utama madumongso adalah ketan hitam. Kemudian diolah menjadi tape atau tapai, sampai teksturnya lembut empuk. Ketika digigit ada sensasi manis, asem, segar, dari tapai yang dicampur ketan hitam.
Bungkusnya dua lapis, yaitu plastik dilapisi kertas minyak. Kemudian masing- masing ujungnya diputar berlawanan arah, layaknya permen. Uliran kertas minyak, diikat benang warna warni.
Madumongso termasuk jajanan favorit, pada masanya digemari tamu yang berkunjung. Tetapi setelah berganti generasi, penyuka madumongso mulai berkurang. Kalah dengan jajanan kekinian, yang rasa dan kemasannya lebih menarik.
Generasi saya dan sepantaran, kini telah menjadi orangtua enggan membuat jajanan sendiri. Kalau pengin madumongso, membeli sebungkus saja cukup. Selebihnya membeli jajanan lain, agar panganan lebaran lebih variatif.
--
Tahun ini, ibu berusia 79 tahun. Semoga sehat selalu, bahagia menjalani masa senjanya. Geraknya mulai terbatas, tidak sebebas lima tahun lalu. Menjelang lebaran di rumah, tak ada lagi kesibukan di dapur seperti dulu.
Ibu hanya duduk manis, jajanan datang dari anak, cucu dan adik-adiknya. Dengan 14 cucu dan 5 cicit, untuk berpindah tempat ibu duduk di kursi roda. Diurusi kakak tengah dan istrinya, yang tinggal seatap dengan ibu.
Lebaran sekarang di meja ibu, kebanyakan tersaji biscuit atau jajanan toples dibeli di kota.Tak ada jajanan masa kecil saya, seperti madumongso, kacang telur, emping mlinjo, rengginang. Tetapi bahwa memori jajanan masa lalu itu, tak bakalan terhapus sampai setua ini.
Saya yang beranak pinak di kota perantauan, bertanggung jawab pada istri dan anak-anak. Menyiapkan lebaran versi kami, dengan makanan menyesuaikan kesukaan anak-anak. Bergulirnya masa adalah keniscayaan, yang tidak bisa dihentikan lajunya.
Sesekali ingatan ini melayang, pada masa kecil di kampung halaman. Terkenang ujian puasa itu, bernama membungkus madumangsa.
Semoga bermanfaat.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025