Alamsyah,SE Jl. Pendreh KPR BTN Km 2, no.4b Rt.33b Rw.009 Muara TEweh
Hari Raya Idulfitri 1444 H What Next?
Kenapa harus "what next?" setelah Hari Raya Idulfitri 1444 H. Tentu saja agar setelah Hari Raya Idulfitri diri kita tidak berubah atau walaupun ada perubahan tidak terlalu banyak perubahannya.
Kita harus berusaha agar perilaku religius dan hikmah puasa terhadap peningkatan kesehatan jiwa dan jasmani yang membuat kita menjadi lebih baik dapat dipertahankan.
Kita tidak ingin dengan selesainya bulan puasa ramadan dan Hari Raya Idulfitri , perilaku yang telah terpatri pada diri kita harus tergerus oleh waktu.
Kita tidak ingin perilaku religius,jiwa dan jasmani kita yang telah menjadi sehat dan lebih baik harus mengalami penurunan bukan sebaliknya mengalami kenaikan. Atau setidak pada hari dan diluar bulan ramadan tetap sama dengan pada saat bulan ramadan.
Untuk itu sebaiknya setelah Hari Raya Idulfitri 1444 H dilanjutkan untuk puasa syawal atau selama 6 hari di bulan syawal.Ini dimaksudkan perilaku religius ,kesehatan dan jasmani dan jiwa kita bisa stabil , bahkan harapannya malah bisa lebih meningkat lagi.
Pada paska Hari Raya Idulfitri 1444 H berkenaan dengan kesehatan cenderung mengalami penurunan,karena saat hari H atau Hari Raya Idulfitri 1444 H,bersilaturahmi ke sanak keluarga,tetangga dan sahabat,makan dan minum cenderung tak terkendali,disamping banyaknya makanan dan minuman yang menggugah selera,juga karena pada saat itu kita beranggapan itu hanya aktivitas setahun sekali.
Berlemak,karbohidrat (gula) tinggi dan mengandung banyak garam, bahan makanan maupun minuman yang tersaji, semua "dihajar " pada saat hari H Hari Raya Idulfitri 1444 H.
Ternyata tidak sampai di situ, di rumah dilanjutkan lagi "menghajar "makanan dan minuman yang mengandung unsur yang sama. Apakah makanan atau minuman tersebut dari hantaran tetangga atau sahabat dan atau sisa makanan lebih yang kita miliki sendiri sendiri. Dengan "alasan" agar tidak mubazir atau terbuang karena rusak kita "hajar"makanan atau minuman tersebut.
Soal"hajar menghajar"sebenarnya bukan suatu masalah ,apabila sebelum-sebelum atau sebelum puasa ramadan tidak memiliki riwayat penyakit yang agak ekstrim .Sebaliknya bila memilikinya kita memilikinya.
Nah ,disini saya akan mengemukakan penyakit ekstrim atau melebihi batas standar atau batas normal tingkat keadaan penyakit yang dapat dilihat melalui tes darah.Tapi yang saya kemukakan disini hanya tiga jenis penyakit,yaitu kolesterol, gula darah dan asam urat.
Kalau hasil pemeriksaan kolesterol,karbohidrat (gula) dan asam urat pada diri kita sebelum puasa ramadan ternyata normal atau dibawah normal maka ketika Hari Raya Idulfitri 1444 H, kita tidak perlu khawatir untuk "hajar menggajar"makanan yang tersedia. walaupun antara kesemua penyakit itu mengalami kenaikan,tapi tentu posisinya tidak lah menjadi ekstrim tingginya.
Sebaliknya jika kolesterol,gula darah dan asam urat sebelum ramadan hasil pemeriksaan diatas batas normal atau tingginya ekstrim,maka tentu kita tidak bisa bertindak semaunya asal "hajar" makanan atau minuman yang banyak mengandung lemak,banyak karbohidrat (gula) dan banyak unsur garam karena kita khawatir ketiga atau kedua atau salah satu penyakit tersebut akan menjadi lebih parah yang akan mendatang penyakit penyakit penyerta lainnya seperti jantung,stroke atau ganguan ginjal.
Bila posisi kolesterol,gula darah,atau asam urat di bawah normal atau rendah,tentu tidak masalah berkenaan dengan"hajar menghajar",karena malah akan membuat menjadi normal keadaan ketiga penyakit tersebut.
Tentu ada yang memiliki pandangan lain.Kita 'kan berpuasa juga,bahkan satu bulan penuh. Iya ....Boleh saja kita berpandangan seperti itu. Tapi kalau perbandingan antara menurunnya tingkat penyakit dengan membuat lebih memperparah penyakit lebih besar ,hal seperti inilah yang berbahaya .
Sebagai ilustrasi satu jenis penyakit ,misalnya kolesterol
Bila berdasarkan hasil tes darah, kolesterol cukup tinggi seseorang = 220 m/dl sebelum bulan puasa ramadan ,karena nilai rujukan atau yang dapat ditolerir adalah kurang dari 200 mg/dl.
Nah,ketika puasa sebulan penuh menjadi 175 mg/dl,berarti ada penurunan kolesterol 25 mg/dl.
Tapi ketika lebaran atau Hari Raya Idulfitri 1444 H "hajar" terus dengan makanan atau minuman yang tinggi lemak, tinggi karbohidrat (gula) dan tinggi garam.
Kemudian setelah puas saat hari lebaran,dilanjutkan lagi "menghajar"makanan atau minuman tinggi lemak,tinggi karbohidrat (gula)dan tinggi garam yang diantar tetangga atau sahabat ,atau sisa makanan atau minuman yang dimiliki sendiri.
Ternyata setelah tes darah kolesterol tidak lagi 175 mg/dl.,tapi menjadi 225 mg/dl.Ini artinya kolesterol mengalami kenaikan sebesar 50 mg/dl.
Untuk itu agar kita bisa terhindar dari salah satu penyakit kolesterol tersebut solusinya adalah agar kita dapat melanjutkan puasa 6 atau puasa syawal dan mengendalikan makan makanan atau minuman tinggi lemak,tinggi karbohidrat (gula) dan tinggi garam.
Kita juga sebaiknya mengiris tipis-tipis lemon dan dimasukkan air panas ke dalamnya,setelah hangat lalu kita minum.
Ketika makan sebaiknya ditambahkan irisan bawang putih,ini tentu saja jika tidak memiliki riwayat maag. Atau nenas sebagai menu pendamping menu utama.
Tujuan semua itu agar kolesterol atau gula darah dan asam urat bisa terkendali,karena yang paling dominan dapat mempengaruhi ketiga jenis penyakit tersebut adalah makanan atau minuman tinggi lemak.
Selamat Hari Raya Idulfitri 1444 H
Dan menunaikan puasa 6 atau puasa syawal ,serta dapat mengendalikan makanan tinggi lemak,tinggi karbohidrat (gula) dan tinggi garam.Agar dapat sehat selalu.