Mengubah Tradisi Lebaran Menjadi Lebih Hemat, Bagaimana Caranya?
Untuk apa memaksakan diri melakukan tradisi tapi sebenarnya diluar kemampuan kita. Tidak perlu mengedepankan gengsi untuk sesuatu yang tidak sesuai.
Ketiga, lakukan perencanaan finansial yang matang agar tidak terjadi pembengkakan biaya dari yang sudah dialokasikan.
Tapi ingat, untuk hal ini kita harus konsisten supaya perencanaan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Keempat, buat sesuatu yang berbeda. Coba buat sesuatu yang berbeda namun tetap memiliki nilai tradisi ramadan dan lebaran.
Misalnya, jika menu lebaran identik dengan daging (yang harganya lebih mahal) ganti dengan menu lebaran ikan (yang harganya lebih murah), untuk tradisi kue lebaran, barangkali kita bisa mensiasati dengan mengurangi jenis kuenya, jika biasanya 6 jenis kue labaran kini menjadi 4 jenia kue lebaran.
Jika harus membeli baju baru, pilih beli baju di pasar atau melalui toko online yang jatuhnya harganya memang lebih murah ketimbang beli di mall atau jika ingin bagi-bagi angoau THR, silakan tukar uang baru di bank dengan nominal pecahan yang lebih kecil (disesuaikan kemampuan).
Dan jika mudik terasa berat di finansial, masih bisa kok memanfaatkan teknologi modern saat ini melalui video call atau live video untuk bersua dengan keluarga besar.
Dengan membuat sesuatu yang berbeda, kita tetap bisa bertradisi lebaran namun tetap bisa berhemat juga tentunya, menyesuaikan dengan kemampuan finansial kita.
Semuanya tidak mengurangi esensi dari lebaran itu sendiri.
Kelima, sisakan dana yang disimpan terpisah. Ya, ketika THR sudah di tangan, jangan lantas menghabiskannya semua.
Sisakan dana untuk keberlangsungan hidup selanjutnya pasca lebaran. Jangan sampai, ketika lebaran kita foya-foya, ternyata setelahnya kita mengalami krisis finansial.
Content Competition Selengkapnya
Suasana Hati Usai Minta Maaf dan Memaafkan
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025