(Mantan) Musisi, (mantan) penyiar radio dan (mantan) perokok berat yang juga penyintas kelainan buta warna parsial ini, penikmat budaya nusantara, buku cerita, sepakbola, kopi nashittel, serta kuliner berkuah kaldu ... ingin sekali keliling Indonesia! Email : kaekaha.4277@yahoo.co.id
Keluarga Gado-gado dan "Kompromi Uniknya" dalam Menu Sahur dan Berbuka

Awal semua rasa,
Mulai dari suapan pertama, kunyahan pertama,
gigitan pertama, sampai jadi makanan yang disuka
...
Awal semua rasa kita hari ini, datangnya dari lidah mama
Karena dari dulu, selera kita itu dari apa yang mama suka
Pernah membaca dua bait pesan diatas? Atau mungkin pernah mendengar audionya dari media? Baiklah, kalimat-kalimat yang tersusun menjadi dua bait diatas saya dapatkan dari salah satu iklan produk consumer goods yang tayang di televisi dan jaringan internet yang biasanya memang rajin tayang di sepanjang Ramadan. Ada yang tahu?
Baca Juga Yuk! Semua Menang, Semua Senang di "War Takjil" Pasar Wadai, Banjarmasin
Tapi maaf, di sini saya tidak akan membahas iklan maupun produk consumer goods yang diiklankan dengan untaian kalimat-kalimat diatas, karena saya justeru tertarik dengan kesederhanaan dan keindahan susunan diksi dari dua paragraf diatas yang ternyata menghasilkan susunan kata yang begitu cantik dengan makna yang ternyata juga begitu dalam, bagaimana kronik selera dalam rasa terbentuk! Semua mama yang mengawalinya!
Pernah mendengar orang-orang disekitar kita atau mingkin malah saya atau anda sendiri pernah menyebut, "masakan mama atau ibu kita masakan ternikmat di dunia", hingga sanggup menciptakan sebentuk kerinduan yang tidak bisa diganti dengan apapun yang membuat seorang anak rela menmpuh ribuan kilo jarak hanya untuk mengecap kembali olahan masakan dari tangan mamanya?
Ternyata, kalimat-kalimat yang tersusun dalam dua bait di ataslah jawaban misterinya!
Pertanyaanya, kira-kira apa yang bakal terjadi ketika dua orang anak yang sama-sama tumbuh dalam lingkungan (ibu) yang sama-sama berhasil menurunkan pattern atau patron selera rasa otentik yang sama-sama kuatnya, bahkan levelnya bukan hanya berlabel keluarga saja, tapi entitas tradisi dan budaya yang berbeda, tiba-tiba disatukan oleh ikatan perkawinan (tanpa pacaran lo ya!) yang tidak hanya mengharuskan mereka berbagi cinta dan kasih sayang semata, tapi juga berbagi rasa, selera rasa?
Itu yang terjadi dengan saya dan isteri yang memang lahir dan tumbuh dari dua entitas tradisi dan budaya berbeda dan uniknya, ternyata kami tumbuh dalam lingkungan yang sama-sama masih memegang aktualisasi budaya yang cukup kuat dan otentik, yaitu budaya Jawa dan budaya Banjar.
Tidak heran jika di awal-awal rumah tangga kami dulu, sering terjadi benturan-benturan akibat perbedaan tradisi dan budaya, dari yang lumayan bikin pening orang sekampung, sampai yang remeh-temeh hingga bikin semua terkekeh-kekeh.
Uniknya, sampai sekarang, setelah 2 dekade lebih kebersamaan kami, khusus untuk urusan selera rasa ini masih harus memerlukan "deal-deal" tertentu alias kompromi agar sama-sama bisa menikmati secara paripurna, kuliner kesukaan masing-masing. Salah satu contoh riilmya adalah soal urusan baras (beras;bahasa Banjar) yang akan kita masak.
Baca Juga Yuk! Mindfull Eating untuk Ramadan dan Kehidupan yang Sehat Penuh Berkah
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025