(Mantan) Musisi, (mantan) penyiar radio dan (mantan) perokok berat yang juga penyintas kelainan buta warna parsial ini, penikmat budaya nusantara, buku cerita, sepakbola, kopi nashittel, serta kuliner berkuah kaldu ... ingin sekali keliling Indonesia! Email : kaekaha.4277@yahoo.co.id
Coba Deh, Setidaknya Sekali Seumur Hidup, Mudiknya Naik Kereta Api!
Tantangan pemicu adrenalin sudah dimulai sejak war ticket. Membeli tiket untuk mudik lebaran, waktunya mepet, untuk kelas ekonomi pula, ini bukan perkara mudah! Ini benar-benar perang beneran untuk ikut antriam panjang di loket stasiun, bahkan bisa sampai tengah malam dan itupun belum tentu dapat tiketnya, tidak jarang tiket sudah ludes sebelum sapai giliran tiba. Kalau sudah gini wajib sabaaar!
Baca Juga Yuk! Mengaktifkan Fitur LOGIKA untuk Ramadan Hemat Finansial Sehat!
War berikutnya adalah saat mau masuk kereta. Mendekati hari H lebaran, biasanya kereta sudah penuh sesak sejak di pintu masuk. Jadi untuk masuk ini juga memerlukan perjuangan ekstra, apalagi kalau anggota keluarga yang dibawa banyak, begitu juga dengan barang bawaaanya, alamat susah untuk bisa masuk dengan lancar.
Beberapa kali dalam perjalanan mudik, saya melihat sendiri seorang suami yang terpisah gegara sang istri tidak bisa ikut naik gerbong atau sebaliknya, sering juga menemui barang bawaaan tidak terangkut karena nggak bisa tembus masuk pintu gerbong karena penuhnya penumpang. Entah bagaimana urusan selanjutnya!?
Untuk yang satu ini saya juga punya pengalaman ngeri-ngeri sedap yang semestinya nggak boleh terjadi dan nggak boleh diikuti, yaitu hanya satu kaki saja yang bisa masuk kereta, sedang satu kakinya lagi dan sebagian badan masih di luar. Hadeeeeh...
War berikutnya adalah untuk mendapatkan tempat duduk yang representatif apalagi untuk kelas ekonomi yang saat itu konsepnya memang siapa cepat dia dapat, meskipun untuk situasi tertentu, seperti penumpang anak-anak dan orang tua tetap sering mendapati empati dari penimpang lain.
Tapi tetap saja, yang masuk belakangan probabilitas dapat kursinya adalah nihil. Apalagi sudah banyak penumpang-penumpang yang berdiri atau malah duduk-duduk menggelar koran atau tikar di lorong-lorong antar kursi penumpang yang menandakan jatah kursi kosong memang sudah habis.
Baca Juga Yuk! Hampers Bakul Purun untuk "Green Ramadan" yang Lebih Berkah
Kalau kereta sudah berjalan, jangan kaget kalau tiba-tiba berlalu-lalang banyak pedagang asongan dengan beragam dagangannya yang muncul entah dari mana! Mereka biasa menawarkan penganan-penganan ngangeni seperti pecel pincuk, nasi campur, gorengan dan lain-lainnya.
Kalau sudah begini, semua tempat di dalam gerbong kereta semuanya ya representatif, termasuk dalam toilet yang dalam posisi normal hanya dipakai untuk buang hajat. tapi kalau sudah full ada saja yang nekat berdesak-desakan di dalamnya. "Tiada rotan akarpun jadi", katanya!
Romansa mudik berkereta api yang ngeri-ngeri sedap atau tegang-tegang nikmat di era mudik 90-an seperti yang saya rasakan dulu memang tinggal kisahnya saja, tapi tetap akan menjadi kenangan indah nan seru yang tak terlupakan, karena setiap jengkal langkah saya dalah pelajaran! Terima kasih KAI telah menghadirkan salah satu kenangan paling seru dalam kehidupan kami!
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025