KOMENTAR
RAMADAN Pilihan

Coba Deh, Setidaknya Sekali Seumur Hidup, Mudiknya Naik Kereta Api!

21 Maret 2025   04:11 Diperbarui: 21 Maret 2025   04:11 760 62

Setiap perjalanan adalah pelajaran, begitulah saya selalu memaknai setiap jengkal langkah dalam perjalanan saya dan setiap fragmen-nya adalah  catatan arif kehidupan, guru terbaik untuk bekal perjalanan berikutnya, sekaligus  kenangan yang akan menjadikan perjalanan penuh warna dan makna.


Romansa Mudik 90-an

Ritual pulang kampung atau juga kita kenal sebagi mudik saat menjelang lebaran, sudah menjadi tradisi unik tahunan khas masyarakat Indonesia yang disebut-sebut sebagai pergerakan manusia secara bersama-sama terbesar dalam sejarah modern. Bagaimana tidak, setiap tahunnya ada jutaan manusia yang berbondong-bondong menggunakan berbagai moda transportasi untuk mudik.

Baca Juga Yuk! "Bengkel Ramadan", Sebulan Perawatan untuk Setahun Kejar Setoran

Selayaknya ikan salmon yang selalu pulang ke tempat ditetaskan sebelum bertelur dan akhirnya mati, para perantau yang telah meninggalkan kampung halaman sekian lama ini juga ingin berkumpul dengan keluarga di kampung halaman untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri, setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadan.

Sebagai perantau, saya merasakan kronik perjalanan terbaik yang sanggup memberikan catatan arif kehidupan paling komplek dan masih terekam dengan jelas dalam ingatan sampai saat ini adalah fragmentasi perjalanan pulang kampung alias mudik di sepanjang era 90-an.
Sejak mendapatkan tugas belajar di Kota Tembakau di ujung timur Propinsi Jawa Timur, pertengahan 90-an, kereta api atau orang-orang kampung kami di kaki Gunung Lawu di Ujung barat Propinsi Jawa Timur menyebutnya sebagai sepur, menjadi transportasi utama di setiap saya harus pulang dan pergi.

Maklum, sebagai angger alias anak gerbong yang sebagian kisahnya pernah saya tuliskan dalam artikel Kronik Nostalgia Anak-anak Kereta: Kereta Api dan Ragam Budaya yang Dibentuknya dan "Si Angger" dan Khayalan Tingkat Tingginya dalam Romansa Berkereta Api
kedekatan saya dan sebagian besar orang di kampung kami dengan si ular besi,  menjadikan kami merasa lebih aman dan nyaman kemana-mana dengan naik sepur.

Baca Juga Yuk! Keluarga Gado-gado dan "Kompromi Uniknya" dalam Menu Sahur dan Berbuka

Setidaknya ada 3 nama sepur yang pernah mengantarkan saya untuk pulang dan pergi alias PP selama saya tugas belajar, yaitu KA Argopuro, KA Sri Tanjung dan KA Logawa dengan harga tiket untuk rute Madiun-Jember yang berjarak sekitar 400 km, saat itu seharga 4000-an rupiah dengan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan. murah bukan?

Menikmati perjalanan pergi-pulang dengan sepur selama hampir 5 tahun, jelas merekam tidak sedikit peristiwa memorable yang terjadi di sepanjang perjalanan. Baik kisah sendiri maupun kisah-kisah beramaian dengan teman-teman dan juga orang-orang di seputarnya,

Mudik Berkereta Api 90-an

Bagi yang pernah muda di era 90-an dan suka jalan-jalan apalagi nyepur alias naik kereta, pengalaman mudik dengan kereta api bukan hanya sekedar duduk manis dan menikmati perjalanan saja, tapi sebuah kronik sarat perjuangan yang selalu memicu naiknya adrenalin. Ngeri-ngeri sedap alias tegang-tegang nikmat kalau bahasa saya!

Tantangan pemicu adrenalin sudah dimulai sejak war ticket. Membeli tiket untuk mudik lebaran, waktunya mepet, untuk kelas ekonomi pula, ini bukan perkara mudah! Ini benar-benar perang beneran untuk ikut antriam panjang di loket stasiun, bahkan bisa sampai tengah malam dan itupun belum tentu dapat tiketnya, tidak jarang tiket sudah ludes sebelum sapai giliran tiba. Kalau sudah gini wajib sabaaar!

Baca Juga Yuk! Mengaktifkan Fitur LOGIKA untuk Ramadan Hemat Finansial Sehat!

War berikutnya adalah saat mau masuk kereta. Mendekati hari H lebaran, biasanya kereta sudah penuh sesak sejak di pintu masuk. Jadi untuk masuk ini juga memerlukan perjuangan ekstra, apalagi kalau anggota keluarga yang dibawa banyak, begitu juga dengan barang bawaaanya, alamat susah untuk bisa masuk dengan lancar.

Beberapa kali dalam perjalanan mudik, saya melihat sendiri seorang suami yang terpisah gegara sang istri tidak bisa ikut naik gerbong atau sebaliknya, sering juga menemui barang bawaaan tidak terangkut karena nggak bisa tembus masuk pintu gerbong karena penuhnya penumpang. Entah bagaimana urusan selanjutnya!?
Dalam situasi mudik mendekati hari H lebaran, biasanya orientasi penumpang memang bukan lagi pada tempat duduk, karena bisa masuk gerbong dan bisa terbawa kereta ke tempat tujuan saja sudah Alhamdulillah!

    Untuk yang satu ini saya juga punya pengalaman ngeri-ngeri sedap yang semestinya nggak boleh terjadi dan nggak boleh diikuti, yaitu hanya satu kaki saja yang bisa masuk kereta, sedang satu kakinya lagi dan sebagian badan masih di luar. Hadeeeeh...

War berikutnya adalah untuk mendapatkan tempat duduk yang representatif apalagi untuk kelas ekonomi yang saat itu konsepnya memang siapa cepat dia dapat, meskipun untuk situasi tertentu, seperti penumpang anak-anak dan orang tua tetap sering mendapati empati dari penimpang lain.

Tapi tetap saja, yang masuk belakangan probabilitas dapat kursinya adalah nihil. Apalagi sudah banyak penumpang-penumpang yang berdiri atau malah duduk-duduk menggelar koran atau tikar di lorong-lorong antar kursi penumpang yang menandakan jatah kursi kosong memang sudah habis.

Baca Juga Yuk! Hampers Bakul Purun untuk "Green Ramadan" yang Lebih Berkah

Kalau kereta sudah berjalan, jangan kaget kalau tiba-tiba berlalu-lalang banyak pedagang asongan dengan beragam dagangannya yang muncul entah dari mana! Mereka biasa menawarkan penganan-penganan ngangeni seperti pecel pincuk, nasi campur, gorengan dan lain-lainnya.

Kalau sudah begini, semua tempat di dalam gerbong kereta semuanya ya representatif, termasuk dalam toilet yang dalam posisi normal hanya dipakai untuk buang hajat. tapi kalau sudah full ada saja yang nekat berdesak-desakan di dalamnya. "Tiada rotan akarpun jadi", katanya!

Transformasi dan Inovasi Kereta Api Indonesia

Romansa mudik berkereta api yang ngeri-ngeri sedap atau tegang-tegang nikmat di era mudik 90-an seperti yang saya rasakan dulu memang tinggal kisahnya saja, tapi tetap akan menjadi kenangan indah nan seru yang  tak terlupakan, karena setiap jengkal langkah saya dalah pelajaran! Terima kasih KAI telah menghadirkan salah satu kenangan paling seru dalam kehidupan kami!

Sekarang, berkat rangkaian transformasi dan inovasi besar-besaran di perusahaan perkeretaapian plat merah ini, ternyata memberi pengaruh signifikan terhadap wajah transportasi kereta api sekarang yang lebih maju dan berkelas!

    Pemanfaatan teknologi berperan strategis terhadap peningkatan pelayanan kepada penumpang, menjadikan pulkam alias mudik dengan nyepur sekarang jauh lebih mudah dan praktis! Beli tiket, sekarang bisa dulakukan dengan secara online kapan saja dan darimana saja hanya dengan beberapa klik di mobile aplikasi terbaru PT KAI yaitu Access by KAI.

Dengan Access by KAI semua drama yang berpotensi menimbulkan kegaduhan saat akan mudik dijamin tiadak akan ada lagi. Digitalisasi infrastruktur pertiketan akan mempermudah dan memperlancar perjalanan mudik ke kampung halaman.

Aplikasi pengembangan dari KAI Access yang hadir dengan tampilan yang lebih fresh juga fitur yang lebih lengkap ini mempunyai  Beberapa keunggulan seperti, Booking tiket lebih fleksibel, Reschedule & Refund tiket yang jauh lebih mudah,  E-Boarding Pass atau tiket digital, info  real time perjalanan dan kehadiran fitur Last Minute Booking.

Itu artinya, tidak ada lagi war  untuk masuk gerbong apalagi war untuk dapat kursi tempat duduk , karena setiap penumpang pasti mendapatkan nomor kursi,  hingga kekhawatiran nggak kebagian kursi sampai harus menggelar tikar untuk duduk di lorong nggak bakalan terjadi. Jadi sejauh apapun perjalanan tetap bisa dinikmati semaksimal mungkin.

Kerennya lagi, dengan e-boarding tidak perlu lagi nyetak tiket pakai kertas karena semua sudah digital, termasuk fitur untuk memantau jadwal keberangkatan, perjalanan, dan bahkan keterlambatan  kereta secara real-time. Semua informasi benar-benar tersedia di ujung jari, memberi rasa aman dan nyaman selama perjalanan.

Baca Juga Yuk! Menyambangi Acil Wati di "Pencerekenan" Ladang Rezeki Sekaligus Amalnya

Tidak hanya itu, kenyamanan mudik berkereta api sekarang juga menyasar pada fasilitas dalam gerbong yang jauh lebih manusiawi dan bersahabat, seperti fasilitas AC, kursi yang lebih empuk juga toilet yang semua fiturnya bisa dioperasikan dengan baik plus adanya layanan makanan dan hiburan di dalam kereta yang membuat perjalanan semakin menyenangkan.

Jadi, perjalanan bersama kereta api saat ini tidak hanya sekedar duduk manis hingga sampai tujuan semata, tapi juga tentang sebuah perjalanan sarat pelajaran dan pengalaman berharga yang lebih menyenangkan!

Jadi, coba deh, setidaknya sekali seumur hidup, mudiknya pakai kereta api!

Rasakan kenyamanan dan keamanan yang menjadi prioritasnya!

Selanjutnya terserah anda...(BDJ21325)


Semoga Bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!


KEMBALI KE ARTIKEL


Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

Laporkan Konten
Laporkan Akun