(Mantan) Musisi, (mantan) penyiar radio dan (mantan) perokok berat yang juga penyintas kelainan buta warna parsial ini, penikmat budaya nusantara, buku cerita, sepakbola, kopi nashittel, serta kuliner berkuah kaldu ... ingin sekali keliling Indonesia! Email : kaekaha.4277@yahoo.co.id
Coba Deh, Setidaknya Sekali Seumur Hidup, Mudiknya Naik Kereta Api!
Setiap perjalanan adalah pelajaran, begitulah saya selalu memaknai setiap jengkal langkah dalam perjalanan saya dan setiap fragmen-nya adalah catatan arif kehidupan, guru terbaik untuk bekal perjalanan berikutnya, sekaligus kenangan yang akan menjadikan perjalanan penuh warna dan makna.
Romansa Mudik 90-an
Ritual pulang kampung atau juga kita kenal sebagi mudik saat menjelang lebaran, sudah menjadi tradisi unik tahunan khas masyarakat Indonesia yang disebut-sebut sebagai pergerakan manusia secara bersama-sama terbesar dalam sejarah modern. Bagaimana tidak, setiap tahunnya ada jutaan manusia yang berbondong-bondong menggunakan berbagai moda transportasi untuk mudik.
Baca Juga Yuk! "Bengkel Ramadan", Sebulan Perawatan untuk Setahun Kejar Setoran
Selayaknya ikan salmon yang selalu pulang ke tempat ditetaskan sebelum bertelur dan akhirnya mati, para perantau yang telah meninggalkan kampung halaman sekian lama ini juga ingin berkumpul dengan keluarga di kampung halaman untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri, setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadan.
Sebagai perantau, saya merasakan kronik perjalanan terbaik yang sanggup memberikan catatan arif kehidupan paling komplek dan masih terekam dengan jelas dalam ingatan sampai saat ini adalah fragmentasi perjalanan pulang kampung alias mudik di sepanjang era 90-an.
Maklum, sebagai angger alias anak gerbong yang sebagian kisahnya pernah saya tuliskan dalam artikel Kronik Nostalgia Anak-anak Kereta: Kereta Api dan Ragam Budaya yang Dibentuknya dan "Si Angger" dan Khayalan Tingkat Tingginya dalam Romansa Berkereta Api
kedekatan saya dan sebagian besar orang di kampung kami dengan si ular besi, menjadikan kami merasa lebih aman dan nyaman kemana-mana dengan naik sepur.
Baca Juga Yuk! Keluarga Gado-gado dan "Kompromi Uniknya" dalam Menu Sahur dan Berbuka
Setidaknya ada 3 nama sepur yang pernah mengantarkan saya untuk pulang dan pergi alias PP selama saya tugas belajar, yaitu KA Argopuro, KA Sri Tanjung dan KA Logawa dengan harga tiket untuk rute Madiun-Jember yang berjarak sekitar 400 km, saat itu seharga 4000-an rupiah dengan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan. murah bukan?
Menikmati perjalanan pergi-pulang dengan sepur selama hampir 5 tahun, jelas merekam tidak sedikit peristiwa memorable yang terjadi di sepanjang perjalanan. Baik kisah sendiri maupun kisah-kisah beramaian dengan teman-teman dan juga orang-orang di seputarnya,
Bagi yang pernah muda di era 90-an dan suka jalan-jalan apalagi nyepur alias naik kereta, pengalaman mudik dengan kereta api bukan hanya sekedar duduk manis dan menikmati perjalanan saja, tapi sebuah kronik sarat perjuangan yang selalu memicu naiknya adrenalin. Ngeri-ngeri sedap alias tegang-tegang nikmat kalau bahasa saya!
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025