(Mantan) Musisi, (mantan) penyiar radio dan (mantan) perokok berat yang juga penyintas kelainan buta warna parsial ini, penikmat budaya nusantara, buku cerita, sepakbola, kopi nashittel, serta kuliner berkuah kaldu ... ingin sekali keliling Indonesia! Email : kaekaha.4277@yahoo.co.id
Serunya "Mudik Hijau" Serasa Berpetualang Menuju Hulu Sungai Barito
Kapal dengan spesifikasi panjang 29 meter, lebar 7,5 meter dan tinggi 7 meter, kapal yang dibangun dengan konstruksi dari kayu besi atau kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) yang legendaris ini, sanggup mengangkut 110 penumpang dan 80 ton barang dalam sekali jalan 2 X 24 Jam menuju hulu atau Muara Teweh dan 1 hari atau 1 x 24 jam plus 1 malam atau 12 jam untuk tujuan sebaliknya atau ke arah hilir/muara di Banjarmasin.
Daya tampung penumpang yang setara 2 bus darat, ditambah daya angkut kapal untuk barang yang setara 4 truk fuso itu, jelas sangat efektif membantu menghapus jejak karbon dari total 6 kendaraan darat dimaksud, seandainya jalan konvoi menuju arah dan tujuan yang sama. Betul?
Di era kejayaan transportasi air di Sungai Barito pada dekade 1970 sapai 1990-an, KM Pancar Mas tidak sendirian berlayar di Sungai Barito, tapi ada beberapa kapal seperjuangan seperti KM. Sumber Barito, KM. Kembang Indah, KM. Barito Agung, KM. Lutfi Arufah dll yang menemani. Sayang armada kapal yang lain lebih dulu pamit dari jalur pelayaran dan lebih memilih untuk memarkir kapalnya dengan berbagai alasan.
"Mudik Hijau" ke Hulu Sungai Barito
Excited! Itulah yang yang saya rasakan ketika sepupu isteri saya mambawai (mengajak;bahasa Banjar) saya bulik kampung alias mudik ke kampung halamannya di Muara Teweh, Kalimantan Tengah sesaat sebelum lebaran beberapa tahun silam melalui jalur Sungai Barito. Bagaimana tidak, serasa mimpi saja, akhirnya saya ada alasan untuk bisa naik kapal kayu legendaris Sungai Barito yang tersisa itu.
Apalagi setelah merasakan sendiri bagaimana sensasinya! Jujur, saya sampai merasa kesulitan untuk membedakan trip pelayaran dari Banjarmasin-Muara Teweh ini, berpetualang atau bulik kampung?
Baca Juga Yuk! Masjid Sultan Suriansyah "Mesin Waktu" Menuju Sejarah Berdirinya Kota Banjarmasin
Pastinya, sensasi bulik kampung dengan armada bus air berbahan kayu ulin legendaris dan satu-satunya yang masih tersisa di jalur tradisional Sungai Barito ini "aroma" petualangannya jauh lebih terasa daripada sekedar perjalanan menuju kampung halaman pada umumnya. Jadi benar-benar serasa my trip my adventure.
Berlayar melawan arus menuju hulu Sungai Barito selama full dua hari dua malam dengan KM. Pancar Mas II yang penampakan arsitekturnya lebih mirip rumah kayu yang kental nuansa Banjarnnya itu, seperti sedang mengikuti program liveshow-nya discovery channel atau national geographic dan sejenisnya. Naaah seru kan!?
Sebagai informasi, untuk perjalanan dengan bus darat atau otobus, perjalanan Banjarmasin-Muara Teweh ini memerlukan waktu tempuh paling lama sekitar 15 jam, sedangkan untuk penerbangan Banjarmasin (BDJ) ke Muara Teweh (HMS) memerlukan waktu sekitar 55 menit saja. Jauh banget ya dengan kapal yang sampai 2 hari!?
Baca Juga Yuk! Menu Baru dan Keluarga Baru, "Insight" Buka Puasa Seru di Pedalaman Kalimantan
Kami memulai petualangan dari Dermaga Banjar Raya, pelabuhan tempat tambat KM. Pancar Mas II yang lokasinya masih di dalam Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas, tidak jauh dari pelabuhan Tri Sakti yang juga sama-sama terletak di tepian Sungai Barito, salah satu sungai terbesar dan terpanjang di Pulau Kalimantan dan juga Indonesia yang sekilas memang lebih terlihat seperti laut daripada sungai.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025