(Mantan) Musisi, (mantan) penyiar radio dan (mantan) perokok berat yang juga penyintas kelainan buta warna parsial ini, penikmat budaya nusantara, buku cerita, sepakbola, kopi nashittel, serta kuliner berkuah kaldu ... ingin sekali keliling Indonesia! Email : kaekaha.4277@yahoo.co.id
Serunya "Mudik Hijau" Serasa Berpetualang Menuju Hulu Sungai Barito
Selama berlayar dua hari dua malam, kita bisa berinteraksi langsung dengan kearifan budaya sungai khas Urang Banjar "bekerja" mewarnai beragam kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang hingga menjadi pattern sosial budaya masyarakatnya secara umum. Pengalaman tak terlupakan Ini pasti akan ngangeni, bagi saya dan siapapun yang ikut dalam perjalanan luar biasa ini!
Di sepanjang perjalanan, kami lebih banyak melewati hutan belantara dari pada perkampungan penduduk, tidak heran jika di tempat-tempat tertentu kru kapal ada juga yang sambil maunjun alias mancing ikan dengan cara-cara tradisional yang unik tapi efektif menarik ikan ke kapal!
Selain itu, di sepanjang perjalanan kita serasa berada di dunia lain, karena sinyal smartphone lebih banyak blankspot-nya sehingga kita seperti putus hubungan dengan dunia luar, wajar jika komunikasi seluler menjadi salah satu "barang mewah" dalam perjalanan ini. Tapi hikmahnya, kita jadi sering ngobrol dan bercengkrama dengan banyak orang baru, "keluarga" kita selama di perjalanan selama 2 hari.
Uniknya, kru kapal sudah hafal di titik-titik mana saja sinyal seluler akan muncul berikut kualitas dari masing-masing operatornya yang biasa muncul berbeda-beda di setiap jengkal perjalanan.
Tidak hanya view alam di luar kapal saja yang menggoda, sajian miniatur Indonesia pada proses interaksi "keluarga baru" di dalam kapal, merupakan fragmentasi kehidupan khas nusantara cerminan bhinneka tunggal ika terbaik yang pernah saya lihat secara langsung dengan mata kepala saya sendiri.
Baca Juga Yuk! Menu Baru dan Keluarga Baru, "Insight" Buka Puasa Seru di Pedalaman Kalimantan
Meskipun didominasi oleh Urang Banjar dan masyarakat Suku Dayak Bakumpai yang kebetulan memang identik dengan Urang Banjar, (terlihat dari bahasa dan dialek yang digunakan), ternyata di dalam kapal juga banyak berisi perantau dari Pulau Jawa dan Sumatera. Rata-rata mereka menuju stockpile atau camp tambang Batubara yang ada di sepanjang kiri-kanan sungai di kawasan pedalaman hulu Sungai Barito.
Selain itu, dari obrolan saya dengan beberapa penumpang selama perjalanan, akhirnya saya ketahui ternyata di dalam kapal juga banyak saudara-saudara kita masyarakat suku Dayak dan uniknya, mereka berasal dari sub-suku Dayak yang berbeda-beda, sehingga secara budaya mereka juga berbeda dan ini biasanya paling mudah terdeteksi dari bahasanya.
Uniknya lagi, ternyata perbedaan bahasa ibu di antara beberapa orang dari sub-suku Dayak ini menyebabkan mereka tidak bisa saling berkomunikasi dan ternyata sebagai jalan tengahnya, mereka justeru menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa komunikasi di antara mereka. Ini yang baru saya tahu!
Baca Juga Yuk! Hampers Bakul Purun untuk "Green Ramadan" yang Lebih Berkah
Jadi menurut mereka, ternyata bahasa Banjar sejak lama menjadi bahasa pengantar komunikasi sekaligus bahasa persatuan semua sub-suku Dayak yang bagana (mendiami;bahasa Banjar) di sepanjang DAS Barito. Pantas saja, di dalam kapal saya lebih sering mendengar percakapan dalam bahasa Banjar dari pada yang lain, hingga saya mengira di dalam kapal kebanyakan Urang Banjar dan Urang Dayak Bakumpai yang secara tradisi dan budaya relatif mirip.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025