(Mantan) Musisi, (mantan) penyiar radio dan (mantan) perokok berat yang juga penyintas kelainan buta warna parsial ini, penikmat budaya nusantara, buku cerita, sepakbola, kopi nashittel, serta kuliner berkuah kaldu ... ingin sekali keliling Indonesia! Email : kaekaha.4277@yahoo.co.id
Ketika Tahu Campur Buatan Ibu Tak Pernah Gagal Memanggilku Pulang
Masih berprinsip pada ungkapan "masakan ibu paling enak sedunia?" Kalau iya, sekaranglah saatnya pulang, untuk kembali menghirup spirit dan meneguk energi kehidupan di kampung halaman, dari setiap suap masakan ibu yang dibuat spesial dari resep-resep abadi dengan bumbu-bumbu asli curahan kasih sayang yang tulus sepenuh hati dan jiwa raganya. Yuk mudik, jangan kalah sama ikan salmon!
Mudik di penghujung Bulan Ramadan untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri di kampung halaman bersama keluarga besar yang telah menjadi tradisi tahunan masyarakat nusantara diyakini memberi banyak manfaat secara psikologis dan spiritual. Meskipun berat dan beresiko, faktanya sebagian besar dari kita tidak sanggup untuk menolak dorongan yang bersifat lahiriah ini. Karena...
Berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga di hari raya merupakan kebutuhan untuk memberikan kepuasan psikologis tersendiri bagi kita sebagai manusia. Menghabiskan waktu menikmati kebersamaan bersama keluarga dan teman selama masa liburan mendorong perasaan bahagia, gembira dan rasa keterikatan serta saling memiliki, yang sangat penting untuk kesehatan mental dan emosional.
Baca Juga Yuk! Mie Ayam Mas Jono
Itu juga yang membuat saya selalu berusaha untuk meluangkan waktu untuk pulang, mudik ke kampung halaman di Jawa timur ketika lebaran menjelang sejak saya merantau melanglang buana.
Apalagi sejak tongkat estafet family hub alias tempat jujugan keluarga besar dari nenek saya di kampung kami yang terletak di kaki Gunung Lawu sejak satu dekade terakhir pindah ke rumah ibu, setelah 3 orang bude alias kakak perempuan beliau yang sebelumnya secara bergiliran rumahnya juga menjadi lokasi family hub, berpulang.
Terpilihnya rumah ibu sebagai family hub bukan tanpa alasan, selain rumah kami yang berada di sebelah rumah joglo besar milik almarhum simbah, mbah kakung dan mbah uti, kebetulan 4 orang anak perempuan mbah uti, termasuk ibu, semuanya jago masak beragam masakan ala Jawa timuran, mewarisi keahlian mbah uti yang memang jago masak hingga mempunyai rumah makan.
Uniknya, diantara 3 bude saya sampai ke ibu saya, masing-masing mempunyai spesialisasi masakan yang berbeda-beda hingga menjadi identitas masing-masing, termasuk lokasi family hub-nya. Kalau alm. bude yang pertama paling jago memasak Soto Ayam Madiun, hingga berlebaran di rumah beliau yang menjadi family hub identik dengan Soto Ayam.
Baca Juga Yuk! Keluarga Gado-gado dan "Kompromi Uniknya" dalam Menu Sahur dan Berbuka
Sedangkan alm. bude yang kedua identik dengan olahan serba kambing, terutama sate dan gulai kambing, sop kambing, sop kaki kambing, hingga sop kepala kambing dan juga tengkleng dan rica-rica. Khusus untuk tengkleng olahan Bude yang citarasanya gurih asin nan sedap, memang sedikit berbeda dengan tengkleng khas Jawa Tengahan yang cenderung manis.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025