Merza Gamal
Merza Gamal Konsultan

Penulis Buku: - "Spiritual Great Leader" - "Merancang Change Management and Cultural Transformation" - "Penguatan Share Value and Corporate Culture" - "Corporate Culture - Master Key of Competitive Advantage" - "Aktivitas Ekonomi Syariah" - "Model Dinamika Sosial Ekonomi Islam" Menulis untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman agar menjadi manfaat bagi orang banyak dan negeri tercinta Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Filosofi di Balik Hidangan Lamang Tapai di Nagari Limokaum Batusangkar

4 April 2025   10:42 Diperbarui: 4 April 2025   10:42 308
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filosofi di Balik Hidangan Lamang Tapai di Nagari Limokaum Batusangkar
Sumber gambar: Dokumentasi pribadi Merza Gamal 

Di kampung nenek saya di Limokaum Batusangkar, setiap kali Idul Fitri atau acara adat, lamang tapai selalu menjadi hidangan istimewa yang tidak pernah absen. 

Lamang tapai, makanan khas Minangkabau, terbuat dari ketan yang dimasak dalam bambu dan disajikan dengan tapai---hasil fermentasi dari ketan yang rasanya manis dan asam. 

Makanan ini memiliki filosofi yang dalam, tidak hanya enak di lidah, tetapi juga menyimpan makna yang melekat erat dengan adat dan budaya Minangkabau.

Sejarah Lamang Tapai

Cerita tentang lamang tapai dimulai dengan pengajaran cara memasak nasi dalam bambu oleh Syekh Burhanuddin, seorang ulama dari Pariaman, kepada masyarakat sekitar. Masyarakat mulai mengadopsi cara memasak ini dan membentuk tradisi malamang---memasak ketan dalam bambu secara bergotong-royong. 

Lamang tapai kemudian menjadi hidangan khas yang sering ditemukan di dataran tinggi Minangkabau, khususnya di Pasar Batusangkar, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di wilayah yang kental dengan kebudayaan rumpun Melayu, seperti Riau, Bengkulu, dan sekitarnya.

Lagu "Lamang Limokaum", yang sering diputar saat saya kecil di kampung halaman, menambah kesan mendalam terhadap kenangan tersebut. Lirik yang saya ingat adalah:

"Eh, lamang lamak, lamang harum di Limo Kaum,
tak tangguang-tangguang yo mamak, lamak rasonyo..."

Lagu ini menggambarkan betapa nikmat dan terkenalnya lamang dari Limokaum, Batusangkar, yang telah menjadi ikon kuliner Minangkabau. Dengan nada khas Minang yang merdu, lagu ini semakin memperkuat eksistensi lamang tapai sebagai salah satu kebanggaan kuliner yang diwariskan turun-temurun di tanah Minangkabau.

Filosofi Lamang Tapai

Filosofi lamang tapai dalam budaya Minangkabau memang begitu dalam dan sarat makna. Perumpamaan bahwa lamang dan tapai melambangkan laki-laki dan perempuan mencerminkan konsep keseimbangan dalam kehidupan---di mana keduanya saling melengkapi dan menciptakan kesempurnaan, sebagaimana hubungan dalam pernikahan.

Tradisi memberikan lamang tapai sebagai hadiah dari menantu perempuan kepada mertua juga sangat menarik. Tidak hanya sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang, tetapi juga menjadi simbol keharmonisan rumah tangga. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun