Merza Gamal
Merza Gamal Konsultan

Penulis Buku: - "Spiritual Great Leader" - "Merancang Change Management and Cultural Transformation" - "Penguatan Share Value and Corporate Culture" - "Corporate Culture - Master Key of Competitive Advantage" - "Aktivitas Ekonomi Syariah" - "Model Dinamika Sosial Ekonomi Islam" Menulis untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman agar menjadi manfaat bagi orang banyak dan negeri tercinta Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Filosofi di Balik Hidangan Lamang Tapai di Nagari Limokaum Batusangkar

4 April 2025   10:42 Diperbarui: 5 April 2025   07:39 318
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filosofi di Balik Hidangan Lamang Tapai di Nagari Limokaum Batusangkar
Lamang Tapi Limokaum/Sumber gambar: Dokumentasi pribadi Merza Gamal 

Rasa lamang dan tapai yang disajikan bisa menjadi cerminan hubungan suami-istri---jika tapainya terlalu asam atau lamangnya kurang gurih, bisa saja mertua menganggap ada ketidakseimbangan dalam rumah tangga pasangan tersebut.

Tradisi ini menunjukkan bagaimana kuliner bukan sekadar makanan, tetapi juga sarana komunikasi sosial dan budaya di Minangkabau.

Ciri Khas Lamang Tapai Limo Kaum

Lamang Tapai Limo Kaum merupakan makanan tradisional khas Minangkabau yang sangat mudah ditemukan di pasar tradisional, khususnya di Dataran Tinggi Minangkabau. 

Lamang tapai juga telah menjadi bagian dari identitas kuliner Minangkabau yang terkenal dengan rasa yang unik---lemang yang gurih dan tapai yang manis dan asam.

Satu hal yang membuat Lamang Tapai dari Limo Kaum begitu istimewa adalah bagaimana masyarakat setempat menghidangkannya dengan penuh perhatian dan cara khas, baik dalam acara formal seperti Idul Fitri, pernikahan, maupun dalam acara adat lainnya. 

Sumber gambar: Dokumentasi pribadi Merza Gamal 
Sumber gambar: Dokumentasi pribadi Merza Gamal 

Saat bulan Ramadan, lamang tapai juga banyak dijual sebagai takjil di pasa pabukoan (lapak pedagang takjil). Di Jakarta bisa ditemui pada pedagang takjil di Pasar Benhil dan Matraman.

Lagu "Lamang Limokaum", yang sering diputar saat saya kecil, semakin menambah ikatan emosional dengan makanan ini, menjadikannya tak hanya sebagai kuliner, tetapi sebagai bagian dari identitas budaya yang melekat.

Cara Menikmati Lamang Tapai

Lamang tapai biasanya disajikan dengan dua cara: pertama, keduanya diaduk menjadi satu seperti kolak, menciptakan harmoni rasa yang menyatu; kedua, dengan mencelupkan irisan tipis lamang ke dalam tapai yang manis dan asam. 

Kedua cara ini memberikan sensasi kenikmatan yang berbeda, tetapi tetap mempertahankan keunikan rasa yang membuatnya begitu khas.

Makanan Tradisional yang Tak Pernah Pudar

Bagi masyarakat Limokaum, Batusangkar, serta sebagian besar Minangkabau, lamang tapai adalah lebih dari sekadar makanan. Ia adalah simbol kebersamaan, tradisi, dan kehangatan keluarga. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun