Taufiq Agung Nugroho
Taufiq Agung Nugroho Penulis

Seorang bapak-bapak berkumis pada umumnya yang kebetulan berprofesi sebagai Asisten Peneliti lepas di beberapa lembaga penelitian. Selain itu saya juga mengelola dan aktif menulis di blog mbahcarik.id

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN

Cerpen: Pak Bambang dalam Teknologi

4 April 2025   06:51 Diperbarui: 4 April 2025   06:51 143
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen: Pak Bambang dalam Teknologi
Ilustrasi Cerpen: Pak Bambang dalam Teknologi (Sumber: Gemini AI)

Senja itu, seperti senja-senja sebelumnya, turun dengan lembut di atas atap rumah joglo Pak Bambang. Namun, ada yang berbeda kali ini. Bukan hanya warna lembayung yang memudar di langit, tetapi juga cahaya aneh yang berkedip-kedip dari dalam rumah. Sebuah cahaya biru pucat, dingin, memancar dari layar televisi yang tiba-tiba menyala sendiri.

Pak Bambang, dengan sarung yang melingkar di pinggang dan rokok klobot yang mengepul di antara jari-jarinya, menatap layar itu dengan kening berkerut. Matanya yang teduh, yang biasanya memancarkan kehangatan seorang kakek, kini dipenuhi kebingungan. Di layar itu, wajah-wajah asing berbicara dalam bahasa yang tidak dipahaminya, gambar-gambar bergerak dengan cepat, dan suara-suara elektronik memenuhi ruangan.

"Apa ini?" gumamnya, suaranya tenggelam dalam dengungan aneh yang keluar dari televisi.

Ia mendekati layar itu, langkahnya ragu-ragu, seperti seorang penjelajah yang memasuki wilayah asing. Tangannya yang keriput, yang terbiasa memegang cangkul dan membelai rambut cucu-cucunya, kini terulur dengan hati-hati ke arah layar. Ia menyentuh permukaan kaca yang dingin, merasakan getaran halus yang mengalir di bawah jarinya.

"Teknologi," kata cucunya, Rina, dengan suara riang saat memberikan hadiah ulang tahun. "Ini akan membuat hidup Kakek lebih mudah."

Mudah? Pak Bambang tertawa dalam hati. Mudah itu ketika ia bisa mencium aroma tanah basah setelah hujan, ketika ia bisa merasakan hangatnya sinar matahari di kulitnya, ketika ia bisa mendengar suara burung-burung berkicau di pagi hari. Bukan suara-suara aneh dari kotak hitam ini.

Rumahnya, yang tadinya tenang dan damai, kini berubah menjadi arena pertunjukan teknologi. Lampu-lampu menyala dan mati sendiri, musik-musik aneh terdengar dari speaker-speaker kecil, dan suara seorang wanita yang tidak dikenal menjawab pertanyaannya dengan nada datar.

"Selamat datang, Pak Bambang," kata suara itu, bahkan ketika ia tidak bertanya apa-apa.

Pak Bambang merasa seperti berada di dalam film fiksi ilmiah yang pernah ia tonton di layar tancap keliling puluhan tahun yang lalu. Ia merasa seperti seorang alien di rumahnya sendiri.

Malam itu, ia duduk di kursi rotan di teras, menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang. Bintang-bintang itu, setidaknya, masih sama. Mereka tidak berubah, tidak berkedip-kedip dengan aneh, tidak mengeluarkan suara-suara yang mengganggu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun