Seorang bapak-bapak berkumis pada umumnya yang kebetulan berprofesi sebagai Asisten Peneliti lepas di beberapa lembaga penelitian. Selain itu saya juga mengelola dan aktif menulis di blog mbahcarik.id
Cerpen: Pak Bambang dalam Teknologi
Namun, di dalam rumah, layar televisi masih menyala, memancarkan cahaya biru yang dingin ke dalam kegelapan. Pak Bambang menghela napas panjang. Ia tahu, hidupnya telah berubah. Dan ia tidak yakin apakah ia siap untuk perubahan itu. Tiba tiba, dari balik layar televisi tersebut, muncul sebuah bayangan yang bergerak gerak. Pak bambang mencoba memperjelas penglihatannya. Ternyata, bayangan tersebut seperti sebuah tangan yang berusaha keluar dari dalam layar televisi.
Mentari pagi merayap malu-malu di balik kabut tipis, menyinari jalanan pasar tradisional yang mulai ramai. Pak Bambang, dengan kemeja batik lusuh dan sandal merek Lily berderit, berjalan dengan langkah ragu-ragu di antara kerumunan orang. Aroma rempah-rempah, ikan asin, dan bunga melati bercampur menjadi satu, menciptakan bau khas pasar yang selalu dikenalnya. Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada suara-suara aneh yang mengganggu telinganya, suara-suara elektronik yang bersaing dengan suara tawar-menawar para pedagang.
"Beli ikan, Pak? Segar-segar!" seorang pedagang ikan berteriak, menarik perhatian Pak Bambang.
"Tidak, terima kasih," jawab Pak Bambang, matanya mengamati layar ponsel yang dipegangnya. Ia sedang mencoba mengikuti instruksi dari cucunya untuk membeli bahan-bahan masakan menggunakan aplikasi belanja daring.
"Aplikasi? Apa itu?" tanya pedagang ikan, mengerutkan kening.
Pak Bambang tidak menjawab. Ia terlalu sibuk mencoba memahami ikon-ikon aneh di layar ponselnya. Ia menekan satu tombol, dan tiba-tiba, suara seorang wanita terdengar dari ponselnya, "Pesanan Anda sedang diproses."
"Pesanan? Pesanan apa?" Pak Bambang bingung. Ia tidak ingat memesan apa pun.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ia mengangkatnya, dan suara cucunya terdengar di ujung sana, "Kakek, di mana Kakek? Kakek sudah memesan ikan 10 kilogram!"
Pak Bambang terkejut. "10 kilogram? Kakek tidak memesan apa pun!"
"Aplikasi itu, Kakek! Kakek salah pencet tombol!"
Pak Bambang menghela napas panjang. Ia merasa seperti seorang anak kecil yang tersesat di hutan belantara bernama teknologi. Ia tidak mengerti apa pun.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025