Seorang bapak-bapak berkumis pada umumnya yang kebetulan berprofesi sebagai Asisten Peneliti lepas di beberapa lembaga penelitian. Selain itu saya juga mengelola dan aktif menulis di blog mbahcarik.id
Cerpen: Pak Bambang dalam Teknologi
Senja itu, seperti senja-senja sebelumnya, turun dengan lembut di atas atap rumah joglo Pak Bambang. Namun, ada yang berbeda kali ini. Bukan hanya warna lembayung yang memudar di langit, tetapi juga cahaya aneh yang berkedip-kedip dari dalam rumah. Sebuah cahaya biru pucat, dingin, memancar dari layar televisi yang tiba-tiba menyala sendiri.
Pak Bambang, dengan sarung yang melingkar di pinggang dan rokok klobot yang mengepul di antara jari-jarinya, menatap layar itu dengan kening berkerut. Matanya yang teduh, yang biasanya memancarkan kehangatan seorang kakek, kini dipenuhi kebingungan. Di layar itu, wajah-wajah asing berbicara dalam bahasa yang tidak dipahaminya, gambar-gambar bergerak dengan cepat, dan suara-suara elektronik memenuhi ruangan.
"Apa ini?" gumamnya, suaranya tenggelam dalam dengungan aneh yang keluar dari televisi.
Ia mendekati layar itu, langkahnya ragu-ragu, seperti seorang penjelajah yang memasuki wilayah asing. Tangannya yang keriput, yang terbiasa memegang cangkul dan membelai rambut cucu-cucunya, kini terulur dengan hati-hati ke arah layar. Ia menyentuh permukaan kaca yang dingin, merasakan getaran halus yang mengalir di bawah jarinya.
"Teknologi," kata cucunya, Rina, dengan suara riang saat memberikan hadiah ulang tahun. "Ini akan membuat hidup Kakek lebih mudah."
Mudah? Pak Bambang tertawa dalam hati. Mudah itu ketika ia bisa mencium aroma tanah basah setelah hujan, ketika ia bisa merasakan hangatnya sinar matahari di kulitnya, ketika ia bisa mendengar suara burung-burung berkicau di pagi hari. Bukan suara-suara aneh dari kotak hitam ini.
Rumahnya, yang tadinya tenang dan damai, kini berubah menjadi arena pertunjukan teknologi. Lampu-lampu menyala dan mati sendiri, musik-musik aneh terdengar dari speaker-speaker kecil, dan suara seorang wanita yang tidak dikenal menjawab pertanyaannya dengan nada datar.
"Selamat datang, Pak Bambang," kata suara itu, bahkan ketika ia tidak bertanya apa-apa.
Pak Bambang merasa seperti berada di dalam film fiksi ilmiah yang pernah ia tonton di layar tancap keliling puluhan tahun yang lalu. Ia merasa seperti seorang alien di rumahnya sendiri.
Malam itu, ia duduk di kursi rotan di teras, menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang. Bintang-bintang itu, setidaknya, masih sama. Mereka tidak berubah, tidak berkedip-kedip dengan aneh, tidak mengeluarkan suara-suara yang mengganggu.
Namun, di dalam rumah, layar televisi masih menyala, memancarkan cahaya biru yang dingin ke dalam kegelapan. Pak Bambang menghela napas panjang. Ia tahu, hidupnya telah berubah. Dan ia tidak yakin apakah ia siap untuk perubahan itu. Tiba tiba, dari balik layar televisi tersebut, muncul sebuah bayangan yang bergerak gerak. Pak bambang mencoba memperjelas penglihatannya. Ternyata, bayangan tersebut seperti sebuah tangan yang berusaha keluar dari dalam layar televisi.
Mentari pagi merayap malu-malu di balik kabut tipis, menyinari jalanan pasar tradisional yang mulai ramai. Pak Bambang, dengan kemeja batik lusuh dan sandal merek Lily berderit, berjalan dengan langkah ragu-ragu di antara kerumunan orang. Aroma rempah-rempah, ikan asin, dan bunga melati bercampur menjadi satu, menciptakan bau khas pasar yang selalu dikenalnya. Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada suara-suara aneh yang mengganggu telinganya, suara-suara elektronik yang bersaing dengan suara tawar-menawar para pedagang.
"Beli ikan, Pak? Segar-segar!" seorang pedagang ikan berteriak, menarik perhatian Pak Bambang.
"Tidak, terima kasih," jawab Pak Bambang, matanya mengamati layar ponsel yang dipegangnya. Ia sedang mencoba mengikuti instruksi dari cucunya untuk membeli bahan-bahan masakan menggunakan aplikasi belanja daring.
"Aplikasi? Apa itu?" tanya pedagang ikan, mengerutkan kening.
Pak Bambang tidak menjawab. Ia terlalu sibuk mencoba memahami ikon-ikon aneh di layar ponselnya. Ia menekan satu tombol, dan tiba-tiba, suara seorang wanita terdengar dari ponselnya, "Pesanan Anda sedang diproses."
"Pesanan? Pesanan apa?" Pak Bambang bingung. Ia tidak ingat memesan apa pun.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ia mengangkatnya, dan suara cucunya terdengar di ujung sana, "Kakek, di mana Kakek? Kakek sudah memesan ikan 10 kilogram!"
Pak Bambang terkejut. "10 kilogram? Kakek tidak memesan apa pun!"
"Aplikasi itu, Kakek! Kakek salah pencet tombol!"
Pak Bambang menghela napas panjang. Ia merasa seperti seorang anak kecil yang tersesat di hutan belantara bernama teknologi. Ia tidak mengerti apa pun.
Kekacauan tidak berhenti di situ. Ketika ia mencoba menggunakan aplikasi peta untuk mencari jalan pulang, ia malah tersesat di gang-gang sempit yang tidak dikenalnya. Ia berputar-putar seperti gasing, hingga akhirnya ia menemukan dirinya di depan sebuah toko elektronik yang ramai.
Di dalam toko itu, ia melihat berbagai macam perangkat elektronik yang berkilauan. Ada televisi layar datar yang besar, ponsel pintar dengan berbagai warna, dan speaker-speaker yang mengeluarkan suara musik yang aneh. Pak Bambang merasa seperti berada di dalam dunia lain.
Tiba-tiba, sebuah suara memanggil namanya, "Pak Bambang?"
Pak Bambang menoleh, dan melihat seorang wanita muda dengan rambut berwarna-warni tersenyum padanya.
"Saya asisten virtual Pak Bambang," kata wanita itu, suaranya terdengar dari sebuah speaker kecil di dekatnya.
Pak Bambang terkejut. "Asisten virtual? Kamu bisa bicara?"
"Tentu saja, Pak. Saya bisa melakukan apa saja untuk Pak Bambang."
Pak Bambang menatap speaker kecil itu dengan curiga. Ia tidak percaya bahwa sebuah benda kecil bisa berbicara.
"Baiklah," katanya, "kalau begitu, tolong antarkan saya pulang."
"Tentu, Pak Bambang. Tapi, sebelum itu, Pak Bambang harus menyelesaikan pesanan ikan Bapak."
Pak Bambang menghela napas panjang. Ia tahu, petualangan teknologinya belum berakhir. Tiba tiba, asisten virtual tersebut mengeluarkan suara yang berbeda, suara yang berat dan dalam, dan berkata "Pak Bambang, anda harus kembali".
Senja merangkak perlahan, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu. Pak Bambang, duduk di teras rumahnya, menatap layar televisi yang menyala lembut. Tidak ada lagi cahaya biru pucat yang dingin, tidak ada lagi suara-suara aneh yang mengganggu. Yang ada hanyalah gambar wajah cucu-cucunya yang tersenyum, dan suara musik keroncong yang mengalun merdu.
"Kakek, lihat ini!" seru Rina, cucu perempuannya, dari layar televisi. "Kami punya kejutan untuk Kakek!"
Di layar itu, cucu-cucunya mulai bernyanyi, suara mereka bercampur dengan alunan musik keroncong. Pak Bambang tersenyum, matanya berkaca-kaca. Ia merasa seperti sedang berada di tengah-tengah keluarga besarnya, meskipun mereka terpisah oleh layar kaca.
"Kakek suka?" tanya Rina.
"Suka sekali," jawab Pak Bambang, suaranya bergetar. "Terima kasih, cucu-cucu Kakek."
Ia menatap layar televisi itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa haru, rasa syukur, dan sedikit rasa kagum. Ia tidak menyangka bahwa teknologi, yang awalnya ia takuti, bisa menjadi jembatan yang menghubungkannya dengan keluarganya.
"Pak Bambang," suara asisten virtual terdengar dari speaker televisi, "ada panggilan video dari cucu Pak Bambang."
Pak Bambang mengangguk, dan gambar wajah cucu-cucunya memenuhi layar televisi. Mereka melambai-lambai, tertawa, dan bercanda, seolah-olah mereka sedang berada di ruangan yang sama.
Pak Bambang ikut tertawa, merasa hangat dan bahagia. Ia menyadari bahwa teknologi tidak selalu buruk. Teknologi bisa menjadi alat yang berguna, jika digunakan dengan bijak.
Malam itu, Pak Bambang duduk di teras, menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang. Bintang-bintang itu masih sama, tetapi ia tidak lagi merasa sendirian. Ia tahu, di balik layar kaca, ada keluarganya yang selalu menyayanginya.
"Terima kasih, teknologi," gumamnya, tersenyum pada layar televisi yang menyala lembut.
Tiba-tiba, asisten virtual itu berkata, "Pak Bambang, ada filter wajah baru yang lucu. Mau coba?"
Pak Bambang tertawa. "Baiklah, kalau begitu. Tapi jangan yang aneh-aneh, ya."
Layar televisi itu berkedip, dan wajah Pak Bambang berubah menjadi wajah kucing dengan kumis panjang dan telinga runcing. Cucu-cucunya tertawa terbahak-bahak, dan Pak Bambang ikut tertawa, merasa seperti anak kecil lagi.
Malam itu, di bawah langit yang bertabur bintang, suara tawa dan musik keroncong memenuhi rumah joglo Pak Bambang. Teknologi, yang awalnya menjadi sumber ketakutan, kini menjadi sumber kebahagiaan. Dan Pak Bambang, seorang kakek tradisional, telah belajar untuk menerima perubahan zaman, dengan senyuman di wajahnya.
Baca cerpen lain:
- Lebaran Tanpa Kata
- Konspirasi Ketupat
- Di Antara Pusaran Laut Banda
- Cahaya Malam Lailatul Qadar
- Jalan Terakhir di Tapal Bumi
- Empat Wajah Agus
- Residu Bom Bali
- Rahasia di Balik Kabut
- Paranoia di Sungai Musi
- Azis dan BCL
- Waktu Maghrib di Kandeapi
- Bisikan di Lift Kosong
- Jerat Kawin Kontrak
- Delusi
- Luka dalam Cinta
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025