Taufiq Agung Nugroho
Taufiq Agung Nugroho Penulis

Seorang bapak-bapak berkumis pada umumnya yang kebetulan berprofesi sebagai Asisten Peneliti lepas di beberapa lembaga penelitian. Selain itu saya juga mengelola dan aktif menulis di blog mbahcarik.id

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN

Cerpen: Pak Bambang dalam Teknologi

4 April 2025   06:51 Diperbarui: 4 April 2025   06:51 153
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen: Pak Bambang dalam Teknologi
Ilustrasi Cerpen: Pak Bambang dalam Teknologi (Sumber: Gemini AI)

Senja merangkak perlahan, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu. Pak Bambang, duduk di teras rumahnya, menatap layar televisi yang menyala lembut. Tidak ada lagi cahaya biru pucat yang dingin, tidak ada lagi suara-suara aneh yang mengganggu. Yang ada hanyalah gambar wajah cucu-cucunya yang tersenyum, dan suara musik keroncong yang mengalun merdu.

"Kakek, lihat ini!" seru Rina, cucu perempuannya, dari layar televisi. "Kami punya kejutan untuk Kakek!"

Di layar itu, cucu-cucunya mulai bernyanyi, suara mereka bercampur dengan alunan musik keroncong. Pak Bambang tersenyum, matanya berkaca-kaca. Ia merasa seperti sedang berada di tengah-tengah keluarga besarnya, meskipun mereka terpisah oleh layar kaca.

"Kakek suka?" tanya Rina.

"Suka sekali," jawab Pak Bambang, suaranya bergetar. "Terima kasih, cucu-cucu Kakek."

Ia menatap layar televisi itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa haru, rasa syukur, dan sedikit rasa kagum. Ia tidak menyangka bahwa teknologi, yang awalnya ia takuti, bisa menjadi jembatan yang menghubungkannya dengan keluarganya.

"Pak Bambang," suara asisten virtual terdengar dari speaker televisi, "ada panggilan video dari cucu Pak Bambang."

Pak Bambang mengangguk, dan gambar wajah cucu-cucunya memenuhi layar televisi. Mereka melambai-lambai, tertawa, dan bercanda, seolah-olah mereka sedang berada di ruangan yang sama.

Pak Bambang ikut tertawa, merasa hangat dan bahagia. Ia menyadari bahwa teknologi tidak selalu buruk. Teknologi bisa menjadi alat yang berguna, jika digunakan dengan bijak.

Malam itu, Pak Bambang duduk di teras, menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang. Bintang-bintang itu masih sama, tetapi ia tidak lagi merasa sendirian. Ia tahu, di balik layar kaca, ada keluarganya yang selalu menyayanginya.

"Terima kasih, teknologi," gumamnya, tersenyum pada layar televisi yang menyala lembut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun