Hanya manusia biasa yang membiasakan diri untuk terbiasa belajar, mengajar, dan diajarkan
Idulfitri: Cara Menyikapi Pertanyaan dan Pernyataan Menyakitkan saat Lebaran dengan Stoikisme
Untuk itu, tidak heran apabila stoikisme menganjurkan kita untuk berfokus pada apa yang bisa kita ubah dalam kehidupan ini, yaitu pikiran dan perilaku kita sendiri.
Tujuannya adalah agar kita mampu menyikapi setiap peristiwa yang menimpa diri secara lebih bijak dan "gembira", karena kita tahu bahwa apa yang terjadi di luar kendali kita merupakan sesuatu yang mustahil untuk dikendalikan.
Mengacu pada pernyataan di atas, stoikisme telah menjadi salah satu cara efektif yang bisa kita gunakan untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan, terutama ketika hari raya Idulfitri tiba.
Tanpa berlama-lama lagi, berikut ini adalah beberapa cara menurut stoikisme yang bisa kita gunakan untuk menyikapi pernyataan dan pertanyaan menyakitkan ketika hari lebaran. Selamat menyimak :)
1) Bayangkan Kejadian Terburuk!
Dalam stoikisme, istilah ini disebut sebagai "Premeditatio Malorum" atau visualisasi negatif. Filsuf stoik menyarankan kita untuk mempraktikkan istilah tersebut sebagai akvititas pertama sebelum memulai hari (tentu saja setelah berdoa bangun tidur).
Premeditatio Malorum meminta kita untuk membayangkan peristiwa atau kejadian terburuk yang mungkin saja menimpa kita selama dua puluh empat jam ke depan. Kejadian yang kita bayangkan adalah kejadian-kejadian yang berpotensi membuat perasaan, suasana hati, dan emosi kita kacau.
Dengan membayangkan peristiwa buruk, kita akan menjadi lebih siap secara mental apabila ternyata peristiwa yang kita bayangkan benar-benar terjadi.
Mari kita gambarkan dalam konteks Idulfitri. Sebelum berangkat salat hari raya, pikirkan secara matang tentang peristiwa apa saja yang akan membuatmu merasa marah, kesal, sedih, dan kecewa. Misalnya, sandal copot di tengah jalan, ketinggalan khotbah, hujan tiba-tiba, saf salat penuh, dan berbagai peristiwa lainnya.
Penggambaran terhadap perisitiwa-peristiwa di atas akan menuntun kita untuk merasa siap dengan konsekuensi dan akibat jikalau peristiwa itu terjadi. Ketika kita bisa membayangkan kemungkinan terburuk, kita menjadi lebih berhati-hati dan peka dengan keadaan sekitar.
Inilah yang menjadi perbedaan Premeditatio Malorum dengan sikap pesimisme yang hanya sebatas berhenti pada proses penggambaran dan tidak berusaha mencari solusi.