Home Educator Omah Rame, Pengajar di BKB Nurul Fikri, Konselor Laktasi, Content Creator
Ramadan, Momentum Emas untuk Habituasi, Bukan Sekadar Menahan Lapar!
Kenapa Ramadan sering gagal bikin kita berubah?
Layaknya tahun baru yang sibuk bikin resolusi, Ramadan juga dijadikan momentum untuk mencapai banyak goals. Biasanya goals nya pengen banget ingin jadi versi terbaik diri sendiri. Mulai dari rajin bangun sahur, nggak pernah skip salat, lebih sabar, lebih produktif, tapi setelah Lebaran, semuanya balik ke kebiasaan lama?
Hmm, adakah yang seperti itu? Tenang, kamu nggak sendirian! Banyak orang mengalami hal yang sama. Padahal, Ramadan sebenarnya adalah momen emas untuk habituasi alias membangun kebiasaan baik yang bisa bertahan lebih lama dari sekadar sebulan puasa. Kalau dilakukan dengan cara yang tepat, perubahan itu bisa jadi permanen!
Nah, gimana caranya? Yuk, kita kupas tuntas!
Kenapa Ramadan Cocok untuk Habituasi?
Ramadan menjadi momentum yang cocok untuk habituasi. Melakukan aktivitas untuk mencapai tujuan tertentu. Ini bahkan sudah dijelaskan dalam Al Quran, lho.
Tiap Ramadan, kita semua pasti akrab dengan surat Al Baqarah ayat 183.
- .
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, wajib atas kamu berpuasa sebagaimana wajib atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa".
Ayat tersebut tidak hanya berisi seruan untuk berpuasa. Namun, memberikan petunjuk bahwa aktivitas yang kita lakukan bisa mendorong untuk mencapai tujuan tertentu. Berpuasa (aktivitas) akan menjadikan kita sebagai orang yang bertakwa (tujuan).
Membangun kebiasaan baru itu butuh konsistensi. Menurut penelitian, otak manusia membutuhkan sekitar 21 hingga 66 hari untuk membentuk kebiasaan yang benar-benar tertanam. Ramadan, yang berlangsung selama sebulan penuh, adalah kesempatan emas untuk melatih diri.
Di bulan ini, kita secara alami lebih disiplin:
Bangun lebih pagi untuk sahur
Menahan diri dari lapar, haus, dan hawa nafsu
Rajin ibadah karena suasana mendukung
Lebih banyak berbuat baik karena ingin meraih pahala maksimal
Semua itu sebenarnya adalah bagian dari proses habit formation! Kalau kita bisa menerapkan pola ini dengan kesadaran penuh, Ramadan bisa jadi titik balik perubahan hidup yang nyata.
Journaling, Cara Jitu untuk Habituasi Saat Ramadan
Journaling adalah kegiatan menulis jurnal atau catatan harian, bukan sekadar curhat, tapi juga sebagai refleksi dan perencanaan hidup. Dalam konteks Ramadan, journaling bisa membantu kita mencapai habit yang diinginkan.
Cara yang paling sederhana untuk membentuk kebiasaan adalah dengan mencatat amal yang kita harapkan. Catatan amal ini diperlukan untuk tracking progress diri kita.
Mencatat amal ini sangat penting. Bahkan juga sudah diingatkan dalam Al Quran. Dalam surat Al Isra ayat 71, Allah berfirman:
Artinya, (Ingatlah), pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya; dan barang siapa diberikan catatan amalnya di tangan kanannya mereka akan membaca catatannya (dengan baik), dan mereka tidak akan dirugikan sedikit pun.
Bila malaikat mencatat amal kita untuk kehidupan di akhirat nanti, journaling yang kita buat mencatat amal kita untuk menjalani kehidupan di dunia.
Mindful Ramadan dengan Journaling
Jurnal Ramadan adalah jurnal yang ditulis saat bulan Ramadan. Menulis jurnal ini bisa membantu kita mencapai goals yang diinginkan. Jurnal Ramadan membantu kita untuk:
Mencatat target Ramadan Misalnya, ingin lebih sabar, lebih banyak baca Al-Qur'an, atau lebih rajin sedekah.
Merefleksikan ibadah harian Apakah hari ini sudah lebih baik dari kemarin? Apa yang bisa diperbaiki?
Mengelola emosi dan pikiran Apa tantangan terbesar selama puasa? Bagaimana cara menghadapinya?
Menumbuhkan rasa syukur Mencatat hal-hal kecil yang membuat Ramadan semakin bermakna.
Menulis membantu kita menyadari hal-hal yang mungkin luput dalam kesibukan sehari-hari, sehingga kita bisa menjalani Ramadan dengan lebih penuh kesadaran.
Cara Praktis Memulai Mindful Ramadan dengan Journaling
Journaling nggak harus ribet atau butuh banyak waktu. Cukup sediakan 5-10 menit sehari untuk menulis, dan kamu sudah bisa merasakan manfaatnya!
1. Siapkan Jurnal Ramadan
Pilih media yang paling nyaman buat kamu: bisa buku jurnal fisik, aplikasi catatan di HP, atau bahkan Google Docs.
2. Tentukan Format yang Cocok
Kamu bisa memilih gaya journaling yang paling nyaman:
- Bullet journal List pendek tentang target, refleksi, dan rencana harian.
- Free writing Tulis bebas tentang apa pun yang kamu rasakan selama Ramadan.
- Prompt-based journaling Gunakan pertanyaan pemantik agar lebih fokus.
3. Gunakan Prompt Ramadan
Kalau bingung mau nulis apa, coba jawab pertanyaan ini setiap hari:
Apa niat utama saya hari ini?
Apa tantangan terbesar yang saya hadapi saat puasa?
Bagaimana perasaan saya saat menjalani ibadah hari ini?
Apa hal baik yang saya lakukan hari ini?
Apa satu hal yang bisa saya tingkatkan besok?
Prompt ini membantu kamu merefleksikan perjalanan Ramadan dengan lebih mendalam.
Manfaat Mindful Ramadan dengan Journaling
Journaling selama Ramadan bukan sekadar aktivitas menulis, tapi juga bisa membawa perubahan nyata dalam hidup. Beberapa manfaatnya:
Lebih Fokus dalam Ibadah
Dengan menuliskan niat dan refleksi harian, kita jadi lebih sadar dengan apa yang ingin kita capai selama Ramadan.
Mengurangi Stres dan Overthinking
Menulis adalah cara ampuh untuk mengeluarkan unek-unek dan merapikan pikiran, sehingga kita bisa menjalani puasa dengan lebih tenang.
Meningkatkan Rasa Syukur
Ketika kita rutin mencatat hal-hal baik dalam hidup, kita jadi lebih menghargai nikmat-nikmat kecil yang sering terlupakan.
Membantu Membentuk Kebiasaan Baik
Dengan mencatat progres harian, kita bisa lebih konsisten dalam membangun kebiasaan baik selama Ramadan dan setelahnya.
Kesimpulan: Rauh Ramadan yang Lebih Bermakna dengan Journaling, Saatnya Jadi Pribadi yang Lebih Baik
Ramadan adalah waktu yang istimewa, dan kita nggak mau momen ini berlalu begitu saja tanpa ada perubahan nyata dalam diri. Dengan mindful Ramadan journaling, kita bisa menjalani setiap hari dengan lebih sadar, lebih terhubung dengan diri sendiri, dan lebih fokus pada perbaikan diri.
Nggak perlu muluk-muluk, cukup luangkan 5-10 menit sehari untuk menulis, refleksi, dan menyusun niat terbaik. Dengan begitu, Ramadan kali ini nggak hanya lewat, tapi benar-benar menjadi perjalanan spiritual yang berkesan.
Raih Ramadan terbaikmu! Jadikan momentum emas untuk habituasi menuju pribadi lebih baik, tak sekadar menahan lapar dan haus.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025